Aturan gawai membangun kebiasaan digital sehat pada remaja

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Virginia Hanny M.Psi., Psikolog mengatakan pembatasan dan aturan pemakaian gawai yang diterapkan pada remaja SMA ditujukan untuk membantu anak belajar mengatur kebiasaan digitalnya secara sehat, dan bukan untuk mengekang.

“Yang dibutuhkan bukan larangan total melainkan pendampingan dan pengaturan yang seimbang,” kata Virginia kepada ANTARA, Rabu.

Ia mengatakan meskipun remaja SMA tampak mandiri, pendampingan dalam penggunaan ponsel tetap krusial. Secara biologis, perkembangan otak remaja masih membutuhkan arahan orang dewasa untuk melatih kemampuan mengatur diri, menahan keinginan, dan mengambil keputusan matang.

Larangan total justru berisiko membuat anak tertinggal informasi, sulit beradaptasi dalam pergaulan, dan kurang memiliki keterampilan digital di masa depan.

Virginia juga mengingatkan kunci pembatasan yang efektif adalah pengaturan yang masuk akal dan kolaboratif dari orang tua.

Baca juga: Orang tua perlu pendekatan efektif untuk aturan remaja pakai ponsel

Orang tua sebaiknya menetapkan waktu bebas ponsel, seperti saat makan bersama atau sebelum tidur, serta membedakan durasi penggunaan ponsel untuk keperluan sekolah dan hiburan dengan melibatkan anak dalam membentuk aturan.

“Pendekatan seperti ini dapat membuat remaja lebih kooperatif dan lebih mau mematuhi aturan, daripada peraturan itu hanya datang dari kita sendiri dan kita hanya menginstruksikan anak untuk mengikutinya tanpa penjelasan,” katanya.

Agar komunikasi tetap terjaga, orang tua harus mengedepankan transparansi dan rasa saling menghargai. Jelaskan alasan logis di balik setiap aturan, dengarkan pendapat anak, serta bangun kepercayaan tanpa sikap terlalu mengontrol seperti mengecek ponsel tanpa izin.

Penelitian membuktikan bahwa pola asuh yang hangat namun tegas akan membentuk remaja yang lebih terbuka, sehat secara emosional, dan bertanggung jawab.

Virginia mengatakan di lingkungan sekolah, pembatasan ponsel efektif meningkatkan fokus dan interaksi sosial jika diterapkan secara adil dan bukan sebagai hukuman.

Misalnya, ponsel disimpan selama jam pelajaran namun diizinkan saat istirahat untuk kebutuhan mendesak. Sekolah juga perlu menyediakan aktivitas alternatif agar siswa tidak bosan.

Menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, dapat melancarkan proses belajar serta mendukung kesejahteraan emosional remaja.

Baca juga: Penggunaan gawai di sekitar anak berpengaruh pada kognitif anak

Baca juga: Permainan tradisional minimalkan pengaruh penggunaan gawai

Baca juga: Menggeser kecanduan gawai lewat aktivitas "dolanan" anak di Cirebon

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |