Jakarta (ANTARA) - PT Asiana Technologies memperkenalkan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif berupa Refuse Derived Fuel (RDF) yang memiliki nilai kalor lebih dari 3.500 kilokalori per kilogram, dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada industri tertentu.
"Alternative fuel yang bersumber dari solid waste, baik sampah industri, sampah organik maupun sampah perkotaan, setelah kita konversi dapat menjadi energi baru terbarukan yang kita sebut solid fuel," kata CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies Poltak Sitinjak dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan, teknologi tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik sampah di Indonesia yang memiliki kadar air relatif tinggi.
Poltak menjelaskan, bahan bakar hasil pengolahan sampah tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar pendamping batu bara atau co-firing pada fasilitas industri.
Pemanfaatannya, kata dia lagi, tidak harus menggantikan batu bara secara keseluruhan, tetapi dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan teknologi pengguna.
Poltak menilai pengolahan terlebih dahulu diperlukan, karena sampah perkotaan di Indonesia umumnya bercampur dan memiliki kandungan air yang tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.
Menurut dia, pendekatan waste-to-fuel dilakukan dengan mengolah sampah terlebih dahulu, termasuk mengurangi kadar air, sebelum material yang memenuhi spesifikasi digunakan sebagai bahan bakar.
"Karena kandungan air di sampah-sampah kita di Indonesia itu tinggi. Jadi kami mengusulkan sampah diolah dulu, setelah menjadi bahan bakar baru digunakan di pembangkit atau pabrik yang menggunakan batu bara," ujarnya.
Selain teknologi pengolahan sampah, perusahaan tersebut juga memperkenalkan smart container untuk mendukung sistem pengangkutan sampah dari tempat penampungan sementara (TPS).
Poltak mengatakan satu unit smart container yang dikembangkan memiliki kapasitas hingga 20 ton sampah setelah melalui proses pemadatan. Sistem tersebut dirancang untuk menampung sampah di TPS, sebelum diangkut menggunakan kendaraan khusus ketika kapasitasnya telah terpenuhi.
Menurut dia, pemadatan sampah dapat mengurangi volume dan memisahkan air lindi yang kemudian dapat diolah lebih lanjut. Sistem tersebut juga dilengkapi teknologi pemantauan yang memungkinkan operator mengetahui ketika kapasitas kontainer sudah penuh.
“Setelah penuh, ada AI yang memberi tahu operator untuk melakukan penjemputan," katanya pula.
Poltak mengatakan smart container dapat ditempatkan di TPS, sehingga sampah dari lingkungan permukiman terlebih dahulu dikumpulkan di lokasi tersebut. Selanjutnya, petugas kebersihan memasukkan sampah ke dalam kontainer sebelum dilakukan pengangkutan ke lokasi pengolahan atau tempat pemrosesan akhir.
Baca juga: PGN gelar program tukar sampah plastik untuk BBG kendaraan bajaj
Baca juga: KSM di Yogyakarta olah sampah plastik jadi bahan bakar alternatif
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































