Washington (ANTARA) - Amerika Serikat (AS) dan Israel tengah membahas perbedaan di antara kedua negara terkait mekanisme dan jadwal pelaksanaan rencana untuk Gaza, kata Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz.
Pada Minggu, Kepala Otoritas Israel, Netanyahu mengumumkan bahwa Israel menolak rencana 15 poin Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Jalur Gaza dan bahwa militer Israel tidak akan meninggalkan wilayah tersebut hingga kelompok Palestina Hamas dilucuti sepenuhnya.
Menurut The New York Times, para pejabat Hamas meyakini Israel masih bekerja sama dengan Dewan Perdamaian di Gaza.
“Kepala Otoritas Netanyahu memiliki persoalan dengan beberapa tahapan dalam urutan ini. Ini menyangkut urutan dan waktu pelaksanaan,” kata Waltz kepada Fox News.
“Kami memiliki tujuan yang sama. Kami sedang membahas sejumlah perincian, dan terkadang, Anda tahu, bahkan teman, keluarga, sepupu, dan sekutu pun memiliki perbedaan pendapat. Saat ini, kami memiliki perbedaan pendapat mengenai beberapa perincian dan waktu pelaksanaannya.”
Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas, dengan mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turkiye, sepakat melaksanakan tahap pertama rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump.
Pada hari berikutnya, gencatan senjata mulai berlaku di Gaza. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pasukan Israel akan mundur ke garis yang disebut "Garis Kuning", namun hingga kini masih tetap menguasai lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: AS tak khawatirkan penolakan Netanyahu soal rencana damai Gaza
Baca juga: Hamas tegaskan setia pada rencana perdamaian Gaza meski ditolak Israel
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































