AS diminta transparan buka detail proyek Golden Dome Rp2,9 kuadriliun

4 hours ago 3

Washington (ANTARA) - Para anggota parlemen dan sekutu Amerika Serikat meminta Departemen Pertahanan AS menjelaskan rincian proyek sistem pertahanan rudal Golden Dome, termasuk rencana pengeluarannya selama dua tahun ke depan, menurut laporan Bloomberg pada Jumat.

Beberapa anggota parlemen meyakini bahwa proyek tersebut kurang transparan dan tidak realistis dalam hal biaya dan jangka waktu.

Mereka telah mengalokasikan hampir 25 miliar dolar AS (sekitar Rp424,5 triliun) untuk proyek Golden Dome menjadi bagian dari rancangan undang-undang (RUU) tahun lalu.

Namun kini, anggota parlemen itu mengeluhkan bahwa tanpa informasi tambahan, mereka tidak dapat menilai sumber daya yang tersedia, kata laporan itu.

Selain itu, wajib pajak Amerika, industri pertahanan, dan sekutu Amerika mengharapkan kejelasan lebih lanjut. Tanpa penjelasan lebih detail, para kontraktor tidak dapat membuat keputusan tentang investasi besar dalam pengembangan baru dan perluasan produksi.

Baca juga: AS klaim sepertiga rudal Iran telah dihancurkan

Kemudian, para mitra Washington juga tidak akan dapat memahami kontribusi apa yang dapat mereka berikan untuk proyek tersebut, tambah laporan media tersebut.

Sebelumnya pada Mei 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan proyek Golden Dome, yang diperkirakan menelan biaya hampir 175 miliar dolar AS (sekitar Rp2,97 kuadriliun).

Perisai berlapis-lapis itu akan mengintegrasikan sistem darat, laut, dan ruang angkasa untuk melindungi Amerika dari ancaman rudal. Uji coba besar pertama Golden Dome dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun 2028.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: AS percepat program Golden Dome untuk tingkatkan pertahanan

Baca juga: Jepang akan gabung sistem pertahanan rudal AS Golden Dome

Baca juga: Membaca strategi intelijen Iran vs AS–Israel

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |