Anggota Komite BPH Migas pastikan stok BBM RI aman

3 hours ago 1
pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fathul Nugroho memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia tetap aman di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik menyikapi gejolak perang di Timur Tengah. Pemerintah Indonesia dinilai telah menyiapkan sejumlah alternatif untuk menutup potensi kekurangan pasokan BBM impor dari kawasan tersebut.

“Sekarang sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia (Timur Tengah), Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik,” kata Fathul Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Fathul menilai penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukan persoalan besar bagi Indonesia.

Baca juga: Wamen Yuliot: Posko Nasional ESDM jadi pusat informasi masyarakat

Baca juga: BPH Migas pastikan keandalan Kilang Dumai di tengah eskalasi Timteng

Ia menjelaskan sekitar 81 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara yang tidak terdampak atau terlibat konflik di Timur Tengah.

Ia merinci Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Nigeria sebanyak 34,07 juta barel sejak April 2025 hingga Maret 2026 atau sekitar 25 persen dari total impor.

Selanjutnya dari Angola sebesar 28,50 juta barel (21 persen), dari negara lain sebanyak 47,40 juta barel (35 persen), sedangkan dari Arab Saudi tercatat 28,50 juta barel atau sekitar 19 persen.

“Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman,” ujar Fathul.

Fathul juga mengimbau masyarakat agar tidak salah persepsi terhadap informasi yang menyebut cadangan BBM di Indonesia hanya cukup untuk 20 hari.

Menurut dia, angka tersebut berkaitan dengan keterbatasan kapasitas penyimpanan yang dimiliki Pertamina, sehingga jumlah BBM di fasilitas penyimpanan tidak mencerminkan keseluruhan ketersediaan pasokan.

Saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional milik Pertamina tercatat sebesar 6,10 juta kiloliter (KL) atau sekitar 67 persen dari total kapasitas.

Sementara fasilitas penyimpanan milik non-Pertamina mencapai 3,06 juta KL atau sekitar 33 persen.

“Hingga saat ini cadangan operasional BBM Indonesia masih tergolong aman, termasuk untuk memenuhi kebutuhan setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026,” katanya.

Baca juga: Integrasi RDMP Balikpapan dan FT Tanjung Batu tingkatkan efisiensi

Baca juga: ReforMiner Institute: Masyarakat perlu diedukasi terkait stok BBM

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |