Analis: Sentimen Bitcoin masih rapuh imbas ketidakpastian geopolitik

4 weeks ago 8

Jakarta (ANTARA) - Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai sentimen pergerakan harga Bitcoin masih menunjukkan tekanan signifikan akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Hal ini menyusul pidato Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran yang tidak memberikan kejelasan arah de-eskalasi.

“Pasar sebelumnya sudah mengantisipasi kemungkinan de-eskalasi konflik, sehingga sebagian besar sentimen positif sebenarnya sudah tercermin dalam harga. Ketika pidato Trump tidak memberikan kepastian, pelaku pasar memilih mengurangi risiko. Ini terlihat dari dominasi distribusi volume dan penurunan open interest di pasar derivatif,” kata Fyqieh dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Setelah sempat bertahan di kisaran 68.000 dolar AS menjelang pidato, Bitcoin justru terkoreksi ke level sekitar 66.000 dolar AS, seiring reaksi negatif pasar global terhadap eskalasi konflik yang berpotensi berlanjut.

Baca juga: Tokocrypto harapkan regulasi adaptif di bawah pimpinan baru IAKD OJK

Sebelum pidato berlangsung, pelaku pasar sempat mengantisipasi narasi “perang akan segera berakhir”, yang mendorong pergerakan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Namun, data intraday menunjukkan reli tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat.

Indikator Cumulative Volume Delta (CVD) menunjukkan dominasi tekanan jual sepanjang sesi perdagangan, sementara On-Balance Volume (OBV) mengindikasikan adanya distribusi aset, di mana pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga untuk keluar dari posisi, bukan menambah eksposur.

Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump menyampaikan bahwa AS akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan lini masa yang jelas terkait berakhirnya konflik.

Dampaknya, harga minyak melonjak lebih dari 5 persen dan memicu kekhawatiran inflasi global, sementara penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi menekan aset berisiko termasuk kripto.

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |