Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh sikap risk-off (menghindari risiko) sebagian investor imbas memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
IHSG tercatat melemah 27,98 poin atau 0,47 persen ke posisi 5.874,38 perdagangan pukul 15.00 WIB pada Kamis (11/06).
“Kalau melihat pergerakan hari ini, pelemahan IHSG lebih banyak dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, pasar masih mencermati konflik geopolitik yang kembali memanas sehingga memicu sikap risk-off di sebagian investor,” ujar Elandry saat dihubungi oleh di Jakarta, Kamis.
Elandry menjelaskan, pelaku pasar juga cenderung wait and see sejumlah agenda penting global, terutama rapat FOMC The Fed pada 17 Juni 2026, yang berpotensi mempengaruhi arah suku bunga global dan pergerakan capital flow (arus dana) ke emerging market.
Sementara dari domestik, Ia menyebut pelaku pasar juga merespons adanya isu rencana aksi demonstrasi besar, yang berpotensi menambah kehati-hatian investor dalam jangka pendek
“Masih ada anggapan bahwa berbagai langkah yang ditempuh pemerintah dan otoritas untuk menjaga stabilitas rupiah belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan pasar secara penuh, sehingga tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian investor,” ujar Elandry.
Selama dua pekan ke depan, Elandry menjelaskan pelaku pasar juga menantikan sejumlah agenda penting yang berpotensi meningkatkan volatility, diantaranya MSCI Accessibility Review pada 18 Juni, dan keputusan BI Rate dalam RDG BI pada 18–19 Juni.
“Serta MSCI Market Classification Review pada 23 Juni yang kembali akan menjadi sorotan investor asing terkait status pasar modal Indonesia,” ujar Elandry.
Terkait proyeksi ke depan, Elandry mengatakan perlu melihat area support penting IHSG, yang mana selama indeks masih mampu bertahan di atas area 6.000, koreksi saat ini masih dapat dikategorikan sebagai konsolidasi yang wajar setelah kenaikan sebelumnya.
“Namun, dalam jangka pendek volatilitas berpotensi tetap tinggi sampai pasar mendapatkan kejelasan dari berbagai agenda tersebut,” ujar Elandry.
Sebagai informasi, dari mancanegara, CENTCOM mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran atas instruksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan "membayar harga", apabila terus menunda kesepakatan damai, sementara Iran menegaskan akan membalas setiap ancaman maupun serangan yang diterimanya.
Selain itu, Trump mengklaim AS telah menjalankan "misi rahasia" untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melewati Selat Hormuz dan mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar global.
Seiring dengan itu, komando militer gabungan tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis (11/06), termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial.
Sementara itu, data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (11/06) pukul 15.00 WIB, IHSG melemah 27,98 poin atau 0,47 persen ke posisi 5.874,38.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.006.826 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,84 miliar lembar saham senilai Rp17,37 triliun. Sebanyak 231 saham naik, 446 saham menurun dan 137 tidak bergerak nilainya.
Baca juga: IHSG berpotensi volatil seiring peningkatan tensi di Timur Tengah
Baca juga: OJK: IHSG di level menarik, ditopang valuasi rendah dan kinerja emiten
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































