Depok (ANTARA) - Akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. Ade Mutiara membuka cakrawala baru mengenai bahaya paparan timbal kronik di lingkungan kerja yang berbahaya bagi kesehatan.
"Penelitian strategis ini mengungkapkan bahwa kontaminasi timbal tidak hanya merusak organ target konvensional, melainkan juga menjadi pemicu utama gangguan metabolik berbahaya, termasuk risiko diabetes melitus pada populasi pekerja yang rentan," kata Ade Mutiara dalam keterangannya di Depok, Selasa.
Temuan krusial tersebut diungkapkan pada sidang promosi Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran FKUI. Di hadapan para penguji, Ade berhasil mempertahankan disertasi bertajuk “Kadar Vitamin D, Variasi Genetik Reseptor Vitamin dan Hubungannya dengan Terjadinya Resistensi Insulin pada Pekerja Terpajan Timbal”.
Selama ini dampak negatif logam berat timbal di Indonesia lebih sering diasosiasikan secara klinis dengan gangguan saraf, kerusakan darah, penurunan fungsi ginjal, hingga masalah reproduksi.
Namun studi terbaru yang diwadahi oleh UI itu secara spesifik mengkaji korelasi antara kadar timbal dalam darah, tingkat stres oksidatif, status nutrisi, hingga variasi genetik reseptor vitamin D dengan munculnya resistensi insulin pada pekerja laki-laki.
Baca juga: Akademisi UI teliti peran metabolomik dalam pengembangan propolis
Kelompok subjek ini merepresentasikan populasi riil di lapangan yang sehari-hari bergelut di sektor industri peleburan logam, pengelasan, pertambangan, konveksi, hingga daur ulang aki bekas yang sarat kontaminasi timbal melalui udara, air, maupun tanah.
Hasil penelitian menguak fakta yang mengkhawatirkan para pekerja yang memiliki kadar timbal darah di atas 30 µg/dL menunjukkan risiko signifikan terhadap peningkatan kadar glukosa darah puasa jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki kadar timbal lebih rendah.
Kondisi ini memperkuat basis ilmiah bahwa paparan timbal tidak terbatas pada organ target yang selama ini dikenal, namun tanpa disadari juga mengacaukan proses metabolisme tubuh manusia.
Secara patofisiologi, kata dia, mekanisme utama yang diduga kuat mendalangi kondisi ini adalah stres oksidatif.
Baca juga: Akademisi tekankan pentingnya menjaga kemandirian Ilmu Lingkungan
Masuknya partikel timbal secara kronik ke dalam tubuh memicu lonjakan pembentukan radikal bebas yang merusak fungsi sel, khususnya jalur-jalur yang berkaitan dengan kerja hormon insulin.
Jika dibiarkan dalam jangka panjang, sensitivitas insulin akan merosot tajam, memicu resistensi insulin, dan berujung pada penyakit metabolik kronis seperti diabetes melitus.
Selain itu riset ini juga mengidentifikasi bahwa variasi genetik pada reseptor vitamin D ikut memengaruhi tingkat kerentanan atau ketahanan biologis seorang individu saat terpapar timbal.
Di sisi lain, temuan ilmiah ini membawa angin segar terutama dalam langkah preventif dengan menyoroti esensialnya faktor nutrisi dalam perlindungan kesehatan para pekerja.
Pemenuhan asupan mikronutrien dan makronutrien yang cukup, seperti mineral seng (zink), kalsium, vitamin D, serta kecukupan protein, terbukti memiliki potensi besar untuk mereduksi dan memitigasi dampak kerusakan biologis akibat racun timbal di dalam tubuh.
Baca juga: FKG UI perkuat riset kedokteran gigi Asia Tenggara
Pewarta: Feru Lantara
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































