Akademisi sebut pentingnya bangun rantai nilai terintegrasi hilirisasi

1 week ago 7
Tantangannya adalah membangun kapabilitas teknologi nasional secara utuh, bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) Is Prima Nanda mengungkapkan pentingnya kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dalam hilirisasi mineral.

Menurut dia, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi ketersediaan sumber daya mineral, melainkan kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dari pemurnian, rekayasa material, hingga manufaktur.

“Untuk naik ke produk teknologi bernilai tinggi, Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufakturnya. Tantangannya adalah membangun kapabilitas teknologi nasional secara utuh, bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi,” kata Is Prima Nanda dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Dia menyebutkan material merupakan fondasi dari hampir seluruh teknologi. Mineral seperti nikel, tembaga, bauksit, timah hingga mineral kritis lainnya, kata dia, baru akan memberikan nilai tambah lebih besar apabila dapat direkayasa menjadi material dengan karakteristik dan performa tertentu.

Material maju tersebut dapat menjadi fondasi berbagai teknologi strategis, mulai dari baterai, kendaraan listrik, elektronik, energi bersih, industri pertahanan hingga sektor dirgantara.

Baca juga: BKPM dorong perusahaan tambang lakukan hilirisasi mineral kritis LTJ

Baca juga: Proyek smelter Amman berkapasitas 900 ribu ton siap dukung hilirisasi

“Kalau kita hanya menguasai sumber dayanya, kita tetap bergantung pada pihak lain untuk teknologi dan produk akhirnya. Sebaliknya, jika kita menguasai material sekaligus teknologinya, kita memiliki peluang menjadi technology maker, bukan hanya resource provider,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan industri material maju yang didorong Danantara Indonesia.

Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa menjelaskan Indonesia memiliki kekuatan di sisi hulu berupa mineral strategis yang melimpah, seperti nikel, tembaga, timah, bauksit, logam tanah jarang dan baja.

Indonesia pun memiliki kekuatan di sisi hilir melalui kebutuhan industri nasional, khususnya dari BUMN di sektor energi, transportasi, pertahanan, dirgantara, maritim, elektronik dan manufaktur lainnya.

Kebangkitan teknologi Indonesia berakar pada kemampuan menguasai inovasi yang diterjemahkan menjadi kekuatan industri serta kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.

Momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan HUT Ke-81 Republik Indonesia menegaskan pentingnya investasi jangka panjang dan kemandirian industri untuk membangun Indonesia yang semakin berdaulat, adil dan makmur.

Baca juga: Len siap pasok komponen alutsista dari hasil hilirisasi mineral

Baca juga: Menteri ESDM tegaskan mineral kritis tetap wajib hilirisasi

Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |