AI dinilai tingkatkan akurasi diagnosis kanker payudara

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) -

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai dapat membantu dokter menilai jenis kanker payudara secara lebih akurat, terutama dalam mengidentifikasi status Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), yaitu protein yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker secara lebih agresif.

“Data dari studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan pemanfaatan AI sebagai pendamping penilaian HER2 dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low sebesar 40 persen dibandingkan penilaian konvensional. Akurasi penilaian juga meningkat hingga sekitar 92 persen,” ujar Dokter Spesialis Patologi Anatomi dr. Patricia Diana Prasetyo, MSi. Med, Sp.PA dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Benarkah menyusui bisa memproteksi wanita dari kanker payudara?

Baca juga: SADARI sebagai langkah awal deteksi dini kanker payudara

Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan HER2 dilakukan melalui analisis jaringan tumor di laboratorium untuk menentukan apakah pasien dapat menerima terapi target tertentu.

Selain itu, dokter lulusan Universitas Diponegoro tersebut menambahkan konsistensi hasil antar dokter juga meningkat dari 66 persen menjadi 82 persen dengan bantuan AI, terutama pada kategori HER2-low dan HER2-ultra low, yaitu kadar HER2 yang sangat rendah dan sering sulit dikenali melalui pemeriksaan manual.

Secara sederhana, semakin tepat dokter menilai kadar HER2, semakin tepat pula terapi yang dapat diberikan. Pasien dengan HER2 positif atau kadar tertentu dapat memperoleh terapi target anti-HER2 yang bekerja langsung pada protein tersebut untuk menghambat pertumbuhan kanker.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker payudara mencatat sekitar 65 ribu kasus baru dan lebih dari 22 ribu kematian di Indonesia. Sebagian kasus berkaitan dengan ekspresi HER2, yang membuat kanker tumbuh lebih cepat dibandingkan jenis lainnya.

Senada dengan hal itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM mengatakan penggunaan AI membantu mempercepat proses analisis jaringan dan mendukung pengambilan keputusan terapi secara lebih tepat waktu.

Ia menegaskan teknologi tersebut berfungsi sebagai pendamping dokter, bukan pengganti, dengan keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis yang mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.

Baca juga: MRCCC Siloam dan Roche perkuat akses terapi dan riset kanker payudara

Baca juga: Menkes: Jangan takut deteksi dini kanker, kini kanker bisa sembuh

Baca juga: Lima gaya hidup yang perlu diterapkan untuk cegah kanker payudara

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |