Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan Indonesia membutuhkan kapasitas penampungan air yang ideal sebesar 100-150 meter kubik per kapita guna menjamin ketahanan air nasional.
Menurut dia, kapasitas tampungan air per kapita Indonesia saat ini masih jauh dari angka ideal. Berdasarkan laporan Bank Dunia pada 2021, kapasitas penampungan air Indonesia masih tercatat sekitar 71 meter kubik per kapita.
“Kebutuhan tampungan kita sebetulnya yang ideal itu kurang lebih 100 hingga 150 meter kubik per kapita. Jadi kalau dari 70 meter kubik per kapita, dibutuhkan satu setengah sampai dengan dua kali lipatnya,” ujar AHY dalam Water Townhall Meeting di Jakarta, Selasa.
Menko AHY menilai kapasitas tersebut masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Baca juga: Retno Marsudi: Pengelolaan air harus lintas sektor
Baca juga: Pemerintah targetkan 24 juta sambungan pipa air bersih pada 2029
Vietnam tercatat memiliki kapasitas penampungan air sekitar 310 meter kubik per kapita, Malaysia 710 meter kubik per kapita, dan Thailand mencapai 1.006 meter kubik per kapita.
Adapun secara total, kapasitas tampungan air Indonesia saat ini diperkirakan berada di kisaran 10-20 miliar meter kubik. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan nasional secara optimal, AHY memaparkan Indonesia memerlukan kapasitas ideal sebesar 30-40 miliar meter kubik.
Peningkatan kapasitas penampungan air menjadi krusial untuk mengantisipasi ketimpangan antara ketersediaan dan kebutuhan air, sekaligus memperkuat ketahanan terhadap risiko kekeringan maupun banjir di berbagai wilayah.
Pada kesempatan yang sama, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi untuk menjawab tantangan ini, pengelolaan air harus meninggalkan pendekatan sektoral sempit karena air merupakan penghubung dan penopang berbagai sektor kehidupan dan pembangunan.
“Think and act outside the water box. Air itu tidak pernah berdiri sendiri, melainkan konektor dan enabler bagi banyak sektor,” kata Retno.
Retno menjelaskan air berkaitan langsung dengan sektor pertanian, kesehatan, energi, hingga industri.
Ia menyebut sektor pertanian menyerap sekitar 72 persen air tawar global, sementara dari sisi kesehatan, sekitar 1.000 anak di bawah lima tahun meninggal setiap hari akibat air yang tercemar dan sanitasi yang tidak layak.
Baca juga: Menko IPK: Kebijakan Zero ODOL diharapkan berlaku Januari 2027
Baca juga: Retno Marsudi: Perlu investasi besar atasi krisis air
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































