Semarang (ANTARA) - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti perdana memimpin proses Kirab Budaya Dugderan Semarang, sepulangnya dari retret kepala daerah di Akademi Militer (Akmil), Kota Magelang, Jawa Tengah.
Proses Kirab Budaya Dugderan diawali upacara di halaman Balai Kota Semarang, Jumat, dipimpin Agustina, didampingi Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin.
Agustina yang berperan sebagai Adipati Semarang Kanjeng Mas Ayu Temanggung Purbadiningrum tampak anggun mengenakan kebaya berwarna merah, sementara Iswar menggunakan baju khas Semarangan berwarna abu-abu.
Dugderan merupakan tradisi budaya khas masyarakat Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang dimeriahkan dengan berbagai prosesi hingga pasar rakyat.
Selain menandai dimulainya Ramadhan 1446 Hijriah, Dugderan tahun ini juga menandai dimulainya pemerintahan baru di Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti dan Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin yang baru selesai menjalani retret di Akmil Magelang.

Sebelum pawai berlangsung, Agustina-Iswar bersama-sama memukul bedug beserta jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (forkompinda), disambut flashmob dari para siswa sekolah yang ada di Semarang di halaman Balai Kota.
Sebelum melepas kitab, Agustina memecahkan kendi sebagai penanda kirab, dimulai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Wing Wiyarso berada paling depan menunggangi kuda menuju Masjid Agung Semarang (MAS) atau Masjid Kauman.
Baca juga: Sejarawan: 'Dugderan' tradisi khas perpaduan budaya dan agama
Di belakangnya, kereta kencana yang ditumpangi wali kota, wakil wali kota, ketua DPRD Kota Semarang, dan jajaran Forkompinda menuju MAS untuk mengikuti prosesi pembacaan suhuf halaqoh tanda masuknya bulan suci Ramadan, serta pembagian kue ganjel rel di Aloon-Aloon Semarang.
"Ini adalah tradisi tahunan menjelang Ramadhan. Semarang ini terdiri atas berbagai macam etnis dan kebudayaan yang disatukan," kata Agustina, di sela prosesi Dugderan.
Bahkan, akulturasi itu diwujudkan dalam Warak Ngendok, hewan mitologi wujud bentuk dari berbagai budaya yang ada di Semarang, seperti Jawa, Arab, Melayu, dan Tionghoa yang menandakan masyarakat Semarang memiliki toleransi tinggi.
"Ini menandai masa di mana kita memasuki sebuah masa yang nanti toleransi dan zaman budaya itu akan mendapatkan tantangan yang cukup berat di masa puasa dan Lebaran," katanya.
Ke depan, ia berharap tradisi Dugderan bisa dipersiapkan dengan lebih baik lagi sehingga bisa mengangkat Semarang dari sisi potensi kebudayaan dan pariwisata yang dimiliki.
"Ke depan dipersiapkan lebih baik lagi, dan akan mengundang tamu-tamu dari luar. Supaya ini mengangkat nama kota Semarang. Ini unik dan keren keterlibatan masyarakatnya luar biasa," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso menjelaskan jika event dugderan tahun ini sengaja digabung. Menurutnya antusiasme dari masyarakat sangat luar biasa.
Menurut dia, Dugderan merupakan tradisi yang digelar setiap tahun, dan pada tahun ini terasa spesial karena Kota Semarang dipimpin oleh wali kota dan wakil wali kota yang baru.
Dalam sejarahnya, kata Wing, prosesi Dugderan di Kota Semarang diinisiasi oleh Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat pada tahun 1881.
"Beliau mewujudkan satu kolaborasi akulturasi budaya. Ketika masyarakat muslim menjelang Ramadhan, antara umara dengan ulama bersama-sama mengumumkan kepada masyarakat untuk menyambut bulan suci Ramadhan," katanya.
Baca juga: 270 pelaku UMKM meriahkan Pasar Rakyat Dugderan Semarang
Baca juga: Kirab budaya Dugderan Semarang meriah meski diguyur hujan
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2025