Yang Chaobin dari Huawei: Membangun Dunia Cerdas yang Lebih Baik dengan 5G-A dan U6GHz

2 hours ago 1

Barcelona, Spanyol, (ANTARA/PRNewswire)- Artikel berita dari Telecom Review Group:

Setelah kecerdasan buatan (AI) mengubah industri dan pengalaman konsumen dengan kecepatan yang luar biasa, era AI seluler menghadirkan tuntutan baru untuk jaringan telekomunikasi. Hal ini membuat 5G-Advanced (5G-A) menjadi teknologi penting yang menjembatani kesenjangan antargenerasi jaringan sekaligus membuka seluruh potensi konektivitas cerdas. Di Mobile World Congress (MWC) Barcelona 2026, Yang Chaobin, CEO, Huawei ICT Business Group, mendorong industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bergerak semakin cepat agar lebih banyak orang yang memanfaatkan perkembangan AI. Upaya tersebut mencakup penerapan 5G-A, penggunaan spektrum baru untuk mendukung aplikasi AI, serta perluasan akses jaringan ke wilayah yang masih kurang terlayani.

Tuntutan Baru untuk Jaringan Komunikasi di Era AI Seluler

Menurut Yang, dalam dua tahun terakhir, tingkat penggunaan token AI harian secara global meningkat hampir 300 kali lipat.

"Era teknologi cerdas semakin dekat. Aplikasi AI baru terus bermunculan setiap hari. Untuk itu, sudah saatnya industri bekerja sama untuk memaksimalkan potensi 5G-A. Kita juga perlu memanfaatkan sumber daya spektrum baru seperti U6 GHz secara efisien untuk menciptakan nilai tambah baru bagi industri sekaligus mempersiapkan evolusi menuju 6G," ujarnya.

Ia menambahkan, jaringan tidak lagi hanya berfokus pada downlink. Jaringan masa depan harus mampu menyediakan bandwidth yang sangat tinggi baik untuk uplink maupun downlink guna mendukung pertukaran data multimodal antara perangkat dan komputasi awan untuk aplikasi AI. Selain itu, jaringan juga harus menghadirkan konektivitas yang aman, andal, dan berlatensi sangat rendah guna mendukung kolaborasi AI secara seketika (real-time), serta pengambilan keputusan cerdas.

Menjembatani Kesenjangan Antargenerasi Jaringan dengan 5G-A

Menurut Yang, perkembangan pesat AI mempercepat perubahan kemampuan jaringan komunikasi seluler. Dalam konteks ini, 5G-A berperan sebagai jembatan menuju generasi jaringan berikutnya, sekaligus menghadirkan kemampuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.

Huawei juga terus mempersiapkan pengembangan 6G, termasuk mendorong kesepakatan global mengenai definisi, skenario penggunaan, dan kandidat teknologi untuk 6G. Standar 6G diperkirakan muncul pada 2029, maka periode lima tahun ke depan akan menjadi momen penting dalam perkembangan layanan seluler berbasiskan AI. Periode tersebut dijuluki sebagai "kesempatan emas" yang akan didukung oleh kemampuan teknologi 5G-A.

Menyoroti, fokus yang harus dijalankan demi mencapai implementasi 6G, Yang mengatakan, "Era AI segera hadir; maka, industri harus mengidentifikasi cara pemanfaatan jaringan 5G-A untuk memenuhi kebutuhan AI yang berkembang pesat." Menurutnya, hal ini mencakup penyediaan kecepatan downlink hingga 10 Gbps dan uplink hingga 1 Gbps—jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan uplink jaringan 4G saat ini. Di sisi lain, pengembangan jaringan juga melibatkan teknologi IoT baru, seperti RedCap dan passive IoT sehingga memunculkan tantangan baru terkait pengembalian investasi yang adil bagi investor jaringan.

"Dalam beberapa tahun ke depan, kita harus bekerja bersama memenuhi lonjakan kebutuhan AI. Sambil terus mengeksplorasi batas teknologi, kita juga harus menghadapi kenyataan adanya ketimpangan perkembangan global," ujar Yang.

Ia menambahkan, sekitar 300 juta orang di dunia masih belum memiliki akses jaringan seluler. Kesenjangan digital ini berpotensi semakin melebar seiring dengan perkembangan pesat AI. Untuk mengatasinya, inovasi berkelanjutan harus tercapai melalui penggunaan berbagai spektrum frekuensi, serta desain solusi yang lebih hemat biaya. Solusi RuralStar dari Huawei, misalnya, telah digunakan di lebih dari 80 negara dan berhasil menghubungkan sekitar 170 juta orang. Solusi ini juga mendukung berbagai layanan digital, seperti pendidikan melalui kelas DigiTruck di Kenya, layanan keuangan tingkat desa di Bangladesh, serta layanan kesehatan jarak jauh di Argentina.

Solusi Berbasiskan 5G-A dengan Spektrum U6GHz

Saat ini, 5G-A telah diterapkan di lebih dari 300 kota di seluruh dunia dan siap memasuki tahap perkembangan berikutnya. Di banyak wilayah, spektrum pita frekuensi C mulai terbatas. Karena itu, pita frekuensi U6 GHz dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan kapasitas jaringan. Pita frekuensi U6 GHz kini diakui sebagai salah satu spektrum utama untuk komunikasi seluler masa depan dalam sesi pembahasan di World Radiocommunication Conference (WRC). Selain itu, perangkat dan infrastruktur industri juga telah mendukung teknologi 5G-A pada frekuensi tersebut.

"Era teknologi cerdas bergerak semakin cepat. Dalam lima tahun ke depan, kita harus bekerja sama memenuhi kebutuhan layanan AI melalui komersialisasi 5G-A secara luas," tutup Yang.

Tentang Telecom Review Group

Telecom Review Group, merupakan grup media menyajikan liputan berita dan menyelenggarakan acara di industri TIK. Media utamanya, Telecom Review, pertama kali diluncurkan pada 2005. Saat ini, Telecom Review menjadi salah satu platform media TIK terkemuka dunia yang tersedia dalam berbagai edisi untuk kawasan Timur Tengah, Eropa, Asia Pasifik, Afrika, dan Amerika. Telecom Review Group dikenal luas karena menyediakan konten berkualitas, informasi tepercaya, serta mengulas berbagai isu utama di industri TIK. Selain itu, Telecom Review Group juga menjadi pelopor yang meluncurkan e-newsletter, majalah digital interaktif, serta menggelar sesi diskusi virtual dan webinar tentang TIK. Informasi selengkapnya: www.telecomreviewgroup.com

Narahubung
Media
[email protected]

SOURCE Telecom Review Group

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |