World Women Day soroti urgensi pencegahan demensia perempuan lansia

5 days ago 4

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan, World Women Day 2026 bertema Give to Gain menjadi momen strategis untuk menyoroti kesehatan lansia perempuan dan urgensi pencegahan demensia, mengingat proporsi kasus demensia lebih besar pada perempuan akibat berbagai kombinasi faktor.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan di Jakarta, Minggu, bahwa secara global, demensia sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat besar. Puluhan juta orang hidup dengan kondisi ini dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat tajam seiring penuaan populasi.

"Di banyak studi dan ringkasan bukti, perempuan menanggung proporsi kasus demensia yang lebih besar dibanding laki-laki; untuk Alzheimer, sekitar dua pertiga dari kasus dilaporkan terjadi pada perempuan. Perbedaan ini tidak hanya karena perempuan hidup lebih lama, tetapi juga karena kombinasi faktor biologis, sosial, dan ekonomi yang menurunkan cadangan kognitif generasi perempuan lansia," kata Imran.

Dia menyebutkan, proyeksi internasional menunjukkan kenaikan signifikan dalam beberapa dekade mendatang, sehingga beban sosial, ekonomi, dan layanan kesehatan akan terus bertambah jika langkah pencegahan dan perawatan tidak diperkuat.

Selain itu, katanya, kenaikan jumlah orang dengan demensia berlangsung lebih cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk banyak negara di Asia Tenggara. Faktor pendorongnya meliputi peningkatan harapan hidup, prevalensi faktor risiko kardiometabolik yang meningkat, dan keterbatasan akses pendidikan serta layanan kesehatan.

"Di wilayah ini, perempuan lansia sering menghadapi hambatan ganda—akses layanan yang lebih rendah dan beban peran keluarga—sehingga intervensi pencegahan yang sensitif gender sangat penting," katanya.

Laporan Dementia prevention, intervention, and care: 2020 (Lancet Commission) merangkum bukti kuat bahwa ada 12 faktor risiko demensia bersifat bisa dimodifikasi sepanjang hidup. Laporan menyimpulkan bahwa intervensi pada faktor-faktor ini dapat mencegah atau menunda proporsi besar kasus demensia.

Di Indonesia, katanya, studi populasi menunjukkan variasi prevalensi demensia pada lansia tergantung metode dan lokasi, dengan angka yang melaporkan rentang yang cukup lebar pada populasi lansia.

Pola nasional konsisten dengan temuan global, di mana lebih banyak perempuan yang terdampak. Faktor lokal seperti perbedaan tingkat pendidikan antar generasi, akses layanan kesehatan primer, katanya, dan beban sosial perempuan memperkuat kebutuhan program pencegahan yang menargetkan perempuan, termasuk skrining tekanan darah, pemeriksaan pendengaran, dan program aktivitas fisik komunitas.

Dia menambahkan, dari laporan Lancet Commission, sejumlah langkah pencegahan yang paling relevan dan dapat diimplementasikan di tingkat individu dan komunitas antara lain kontrol tekanan darah sejak usia 30 tahunan, aktivitas fisik teratur, serta stimulasi kognitif dan pendidikan seumur hidup misalnya seperti dengan kursus.

Menurutnya, dengan memberi investasi nyata pada sumber daya, perhatian, dan kebijakan, mulai dari pencegahan hingga perawatan pascadiagnosis yang holistik, setiap pemangku kepentingan punya peran saling melengkapi dalam mengurangi beban demensia pada perempuan, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

"Dengan kata lain, ketika masyarakat, kebijakan, dan keluarga memberi perhatian dan sumber daya yang tepat, kita semua mendapat manfaat berupa penurunan beban demensia dan peningkatan kualitas hidup perempuan serta keluarganya," katanya.

Baca juga: Kemenkes siap buka layanan vaksin campak di posko mudik

Baca juga: Kemenkes tanggapi perilaku influencer kena campak, tapi keluar rumah

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |