Wisatawan ceritakan tingginya keamanan di China

3 months ago 30

Beijing (ANTARA) - Apa yang akan terjadi jika seseorang meninggalkan sebuah ransel berisi barang-barang pribadi tanpa pengawasan di salah satu area komersial tersibuk di China?

YouTuber "Because I'm Lizzy" memutuskan untuk mencari jawabannya di Chongqing, China barat daya, tahun lalu. Setelah menghabiskan sekitar 100 menit menyusuri jalan-jalan kota yang berliku, mencicipi kuliner lokal, dan menikmati kehidupan malam hari yang dipenuhi cahaya neon, dia kembali dan mendapati seluruh barangnya tetap berada di tempat yang sama seperti saat dia meninggalkannya.

Kreator konten asal Afrika Selatan berusia 29 tahun itu bahkan sama sekali tidak terkejut dengan hasilnya. "Saya sudah berkali-kali membuktikan bahwa tidak ada barang yang akan dicuri," katanya kepada Xinhua. "Keamanan adalah alasan utama mengapa saya tinggal di China," imbuhnya.

Saat ini menetap di Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan, China barat daya, YouTuber Jannelize Bessenger telah tinggal di China selama tujuh tahun. Dia membuat serangkaian video tentang China setelah menyadari bahwa banyak orang hanya memiliki sedikit informasi tentang tingkat keamanan di negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa tersebut.

Namun bagi Bessenger, orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut dan nilai-nilai serta penghormatan mereka terhadap kehidupanlah yang menjadikan China sebagai tempat paling aman yang akan ditinggalinya selama bertahun-tahun.

Kesan pertamanya tentang China dibentuk oleh kebaikan tak terduga dari seseorang yang tak dikenalnya. Bessenger mengenang bahwa pada 2019, hanya empat bulan setelah tiba di China, dia mengalami sakit parah saat berada di Nanchang, Provinsi Jiangxi, China timur. Meskipun telah menyimpan lokasi rumah sakit di ponselnya, dia tetap tidak dapat menemukannya.

Karena saat itu belum fasih berbahasa Mandarin, dia meminta bantuan kepada seorang pria di dekatnya menggunakan aplikasi penerjemahan. Di luar dugaannya, pria tersebut secara sukarela menemaninya ke rumah sakit menggunakan kereta bawah tanah, kemudian pergi.

Bessenger sempat bertanya-tanya apakah pria itu akan meminta kontaknya atau mengharapkan sesuatu sebagai balasan, tetapi tidak terjadi apa-apa. "Dia benar-benar hanya ingin berbuat baik," tuturnya. Momen tersebut membuat Bessenger menyadari bahwa dia dapat hidup aman seorang diri di China sebagai wanita warga asing.

Berasal dari sebuah kota kecil di Afrika Selatan yang terkenal dengan satwa liar dan safari, solo traveler itu mengatakan bahwa lingkungan yang aman di China memungkinkan dirinya untuk menikmati gaya hidup yang santai di negara tersebut.

"Baik itu berjalan-jalan sambil mendengarkan musik di telinga pada pukul 23.00 ketika saya tidak bisa tidur, atau mencari udara segar tanpa memeriksa peta terlebih dahulu, saya hanya pergi dan menjelajah," katanya.

China merupakan salah satu negara dengan skor tinggi secara global dalam indeks rasa aman publik dan ketertiban hukum, menurut Laporan Keamanan Global (Global Safety Report) 2025 dari Gallup.

Ketika Bessenger membagikan apresiasinya terhadap aspek keamanan di China melalui Rednote, sebuah platform berbagi gaya hidup, banyak pengguna China merasa heran mengapa dia terus membicarakan hal itu.

"Mereka sudah terbiasa dengan hal itu sehingga tidak benar-benar menyadari betapa beruntungnya mereka tinggal di negara dengan tingkat keamanan setinggi ini," kata Bessenger. Perasaan tersebut juga dirasakan oleh ibunya, yang mengunjungi China dari Afrika Selatan dua tahun lalu dan kemudian memutuskan untuk menetap.

Keamanan dan keterbukaan China juga dirasakan oleh para wisatawan jangka pendek. Pada 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke China melampaui 150 juta, naik lebih dari 17 persen secara tahunan (year on year/yoy). Dari jumlah tersebut, lebih dari 30 juta wisatawan asing memasuki negara itu melalui kebijakan bebas visa China.

Sambil membawa perlengkapan kamera mahal di tangan, YouTuber asal Kanada Dave Mani dan istrinya dengan nyaman berkeliling di kota-kota China atau menjelajahi daerah pedesaan.

"Setelah mengunjungi 56 negara, kami dapat mengatakan bahwa China berada di peringkat yang sangat tinggi dalam hal keamanan secara umum," ungkap Mani.

Sebagai seorang kreator konten independen, Mani menyadari betapa dalamnya teknologi terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari di China. Setiap kali dia dan istrinya membutuhkan bantuan selama perjalanan, warga setempat dengan cepat menggunakan aplikasi penerjemahan untuk berkomunikasi dengan mereka.

Pasangan tersebut dengan cepat menjadi penggemar WeChat. Mereka mengatakan bahwa aplikasi super itu sangat membantu mereka, terutama melalui WeChat Pay, yang memungkinkan mereka melakukan pembayaran dengan mudah dan aman.

"Tingkat keamanan dalam kehidupan sehari-hari seperti itu menjadikan proses syuting dan penjelajahan sangat mudah dan menyenangkan," kata Mani.

Seperti Bessenger dan Mani, Ana Rosa Neumann Devers, seorang peserta pertukaran pelajar dari Republik Dominika yang kini menempuh studi di Harbin, Provinsi Heilongjiang, China timur laut, merasa nyaman dan santai saat berjalan-jalan melewati deretan kios pasar yang tertata rapi, baik siang maupun malam hari.

Gadis dari negara tropis Karibia itu jatuh hati pada kota bersuhu dingin di utara tersebut, terpikat oleh malam-malam bersalju di sana dan merasakan kehangatan dari kebaikan serta ketulusan teman-teman sekolahnya. Dalam sebuah pesta sekolah, dia mengenakan pakaian tradisional Republik Dominika dan disambut dengan tepuk tangan meriah serta pujian yang tulus.

"Orang-orang di sini menghormati budaya dan kebiasaan yang berbeda. Tidak ada yang memperlakukan saya berbeda karena saya berasal dari negara lain. Saya benar-benar merasa dihargai," ungkapnya.

Dalam tujuh tahun terakhir, Bessenger menemukan bahwa di China, setiap provinsi maupun kota menawarkan sesuatu yang benar-benar berbeda untuk dijelajahi oleh para wisatawan. Namun, bagi mereka yang tidak tahu harus pergi ke mana atau ingin mengikuti tren "Menjadi Warga China" (Becoming Chinese), dia memberikan saran sederhana, yakni turunlah ke jalan saat malam tiba.

"Berjalan-jalanlah, cicipi jajanan kaki lima, dan lihat bagaimana orang-orang menikmati makanan mereka serta bagaimana kota ini memasuki ritme yang damai namun tetap hidup," kata Bessenger. "Di situlah China terasa paling nyata."

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |