Tapanuli Selatan- Sumatera Uta (ANTARA) - Warga di kawasan Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, memanfaatkan sisa-sia kayu gelondongan pasca banjir bandang beberapa waktu lalu, untuk dijadikan Hunian tetap sementara hunian sementara mandiri (huntara).
“Kita bangun Huntara ini memanfaatkan kayu gelondongan sisa-sia banjir waktu lalu. Karena memang ini kan bisa dimanfaatkan juga kan sebagai pondasi rumah ini,” kata Warga Desa Garoga, Indra Batubara kepada ANTARA, Selasa.
Memanfaatkan kayu-kayu yang terbawa air ini, merupakan bentuk inisiatifnya dalam mengurangi sampah kayu yang masih banyak berserakan hingga kini.
Baca juga: Penyintas bencana tanah bergerak Tapsel buka puasa pertama di huntara
Baca juga: Jelang Ramadhan, pembangunan Huntara Batang Toru Tapsel dipercepat
Hunian sementara mandiri ini memiliki luas 35 meter persegi, nantinya huntara ini bakal selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447. Bangunan dengan memanfaatkan kayu sisa ini, memiliki satu ruang tamu, satu ruang kamar tidur.
Sisa-sia kayu gelondongan akibat banjir bandang beberapa waktu yang lalu di kawasan Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. (ANTARA/Chairul Rohman)Menurut dia, halaman depan ini nantinya bakal dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk dijadikan warung kopi. Hal ini, dilakukan untuk menyambung perekonomian keluarganya di tengah pasca banjir bandang.
“Kami mulai bangun ini kemarin di tanggal 10 Maret dan selesai direncanakan sebelum Lebaran. Nantinya di depan ini, juga bakal dimanfaatkan untuk membuka warung kopi,” ujar dia.
Untuk membangun satu huntara ini, dirinya membutuhkan sekitar 14 kayu gelondongan yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian sesuai dengan kebutuhan dalam membangun rumah itu sendiri.
Sebelumnya, Indra telah mendapatkan huntara yang sudah disediakan oleh pemerintah di lokasi yang tidak jauh dari desanya, namun dia memilih untuk membangun huntara versinya sendiri.
Sementara itu, masyarakat yang menghuni huntara Tapanuli Selatan, mengaku nyaman menetap di lokasi itu. Bahkan, Derma Siregar yang menghuni huntara itu memanfaatkannya untuk berjualan.
“Kalau untuk tinggal sih, kami merasa nyaman ya. karena kan fasilitas udah ada semua ya, kamar mandi dan ruang terbukanya juga sudah ada,” kata Derma Siregar.
Baca juga: Pemerintah kebut bangun huntap di Tapanuli Utara dan Selatan
Dalam hunian ini, dia membuka warung kecil yang menjajakan voucher pulsa, makan ringan dan juga minuman seperti kopi dan teh. Peluang ini, dimanfaatkan untuk menyambung hidup di tengah kondisi finansial yang terbatas.
Tidak jauh dari kediaman Derma, terdapat juga yang menjajakan jualan sayur-mayur yakni Lina Hutabarat.
Lina mengaku bahwa dirinya menetap di huntara ini belum lama. dirinya baru menetap huntara ini baru satu minggu dan berjualan saur mayur baru dilaksanakan pada hari ini.
“Kami juga aru tinggal di sini dan kami jualan sayur mayur ini juga baru hari ini. Jadi, belum banyak yang tahu kalau kami ini jualan sayur mayur,” kata dia.
Dia mengucapkan rasa syukur kepada pemerintah terkait hunian yang ditempatinya ini. Dia merasa bersyukur memiliki tempat untuk berteduh sementara sembari memperbaiki rumah mereka sebelumnya.
Sebanyak 245 keluarga kini telah menghuni huntara di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan.
Baca juga: Kementerian PU percepat pembuatan sumur di huntara Tapanuli Selatan
Baca juga: Pemprov Sumut: Pembangunan ribuan unit huntara rampung pekan depan
Baca juga: Huntara Simarpinggan jadi tempat nyaman bagi penyintas tanah bergerak
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































