Hangzhou (ANTARA) - Bagi Zhou Zhihong (67), ajakan bermain dari cucu perempuannya yang berusia 14 tahun terdengar tak biasa. Usai mengerjakan tugas dari sekolahnya, sang cucu terkadang menghampirinya dan berkata, "Nenek, mau bermain?"
Keduanya bertemu di dalam "Naraka: Bladepoint", sebuah gim video pertarungan multipemain di mana Zhou telah menjadi pemain yang cukup mahir hingga mampu memimpin tim lanjut usia (lansia) meraih kemenangan.
Olahraga elektronik (e-sport), yang selama ini identik dengan pemain berusia muda, kini mulai hadir di sejumlah ruang kelas komunitas dan lembaga perawatan lansia di China.
Para penyelenggara ingin melihat apakah bermain gim dapat membantu warga lansia lebih percaya diri beradaptasi dengan dunia digital, mempererat hubungan sosial, serta menemukan kesamaan dengan anggota keluarga dari generasi yang lebih muda.
Meski masih terbatas dalam segi skala, eksperimen semacam ini berlangsung di tengah kondisi meningkatnya populasi lansia di China dan semakin aktifnya kelompok usia tersebut di dunia maya.
Per akhir 2025, China memiliki lebih dari 323 juta penduduk berusia 60 tahun ke atas, yang menyumbang 23 persen dari total populasinya. Pada Desember, tingkat penggunaan internet di kalangan kelompok usia tersebut telah mencapai 53,7 persen.
Perusahaan analisis seluler QuestMobile, yang mendefinisikan "pengguna berambut perak" sebagai mereka yang berusia di atas 50 tahun, menyatakan bahwa terdapat 351 juta pengguna dari kelompok itu yang aktif menggunakan internet seluler di China per November 2025, naik 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang di China timur, lembaga pendidikan komunitas Binjiang membuka kelas e-sport pertama di kota tersebut untuk warga berusia 55 tahun ke atas pada November 2024.
Dalam waktu tiga hari, hampir 150 warga lansia mendaftarkan diri. Lebih dari 60 orang mengikuti kelas tersebut, termasuk seorang peserta yang berusia 82 tahun.
Sebagian ingin memahami mengapa kaum muda begitu menggemari gim. Sebagian lainnya tertarik pada latar seni bela diri di dalam gim tersebut, sementara ada pula yang berharap mendapatkan topik pembicaraan baru dengan anak dan cucu mereka, menurut staf komunitas.
Li Aixia (57) sebenarnya ingin mempelajari e-sport sebelum pensiun. Putranya sering menjelaskan jalannya pertandingan kepadanya dan suaminya, Li Zhongli (62).
Mereka mendengarkan tanpa sepenuhnya memahami, lalu memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
Kini bermain dengan nama panggilan "Mad Swordsman" dan "Enchantress", pasangan tersebut membatasi diri bermain hanya tiga ronde pada hari-hari biasa karena mata dan sendi jari mereka cepat lelah.
Sebelum kompetisi, mereka berlatih secara daring bersama rekan satu tim dan bertemu di kafe untuk berlatih sekaligus mengevaluasi kesalahan saat bermain.
Aktivitas bermain gim juga telah mengubah percakapan di rumah. Li kini mendiskusikan strategi permainan dan momen-momen berkesan bersama putranya.
Dalam sebuah acara pertemuan keluarga, dia mengenakan kacamata baca, memutar ponselnya ke posisi horizontal, lalu bermain bersama suaminya. Hal tersebut sontak membuat para kerabat yang lebih tua memandang terkejut.
Kursus di Hangzhou ini dirancang untuk orang-orang yang hanya memiliki sedikit pengalaman bermain gim, atau bahkan tidak sama sekali. Lima sesi pertamanya dimulai dengan mengunduh gim dan mempelajari antarmukanya.
Istilah-istilah yang umum bagi pemain muda ditulis ulang dalam bahasa yang lebih sederhana, sementara tanda panah digunakan untuk menjelaskan gerakan.
Proses pembelajarannya cukup sulit. Hanya 30 hingga 40 peserta yang berhasil menyelesaikan kursus lima sesi tersebut. Beberapa di antara mereka yang berhasil kemudian bahkan menjadi instruktur.
Gao Liying (63), salah satu rekan satu tim Zhou, menyusun ulang catatan dan pengalaman praktisnya, menggunakan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membuat kerangka tulisan, lalu mengetik sebuah buku panduan yang terdiri dari 17 bab di ponselnya selama lebih dari 20 hari.
Pan Lianggan (68), seorang pensiunan jurnalis foto, telah mengajar di kelas-kelas komunitas di tujuh distrik dan wilayah di Hangzhou. Karena awalnya dia sendiri tidak memiliki pengalaman bermain gim, dia memahami bagian mana yang biasanya menyulitkan para peserta didik lansia "Banyak yang sudah lupa apa yang baru saja dijelaskan lima menit yang lalu," katanya. "Anda harus mengulanginya dan membiarkan mereka berlatih lagi dan lagi."
Lembaga pendidikan tersebut kini telah membina tujuh angkatan untuk lebih dari 300 peserta didik dan melatih delapan instruktur lokal. Lulusan angkatan pertama telah mengajar di tiga komunitas percontohan.
Model yang berbeda sedang diuji coba di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan di China barat daya. Sebuah penyedia layanan perawatan lansia di sana membentuk sebuah tim e-sport beranggotakan tujuh orang yang rata-rata berusia 65 tahun, dengan yang tertua berusia 77 tahun. Tim ini bermain gim "League of Legends" dan dilatih oleh seorang pengajar serta sejumlah mahasiswa dari program manajemen e-sport di Universitas Perfilman dan Televisi Sichuan (Sichuan Film and Television University).
Hangzhou telah memasukkan aktivitas bermain gim ke dalam jaringan pendidikan komunitas publik, sementara Chengdu menggabungkannya dengan layanan perawatan lansia dan pelatihan tim. Secara keseluruhan, contoh-contoh ini menunjukkan bahwa sebagian lansia ingin lebih dari sekadar belajar cara memindai kode atau menggunakan aplikasi, dan turut menikmati bentuk hiburan digital yang akrab bagi generasi muda.
Kendati demikian, pihak penyelenggara menekankan bahwa program ini tidak dimaksudkan untuk mendorong aktivitas bermain gim tanpa batas.
Di Hangzhou, sesi bermain praktis dibatasi waktunya, disertai latihan pemanasan jari dan jeda wajib agar para peserta dapat mengistirahatkan mata serta meregangkan bahu dan leher. Materi pelajaran juga mencakup risiko terkait pembelian dalam gim, pop-up pembayaran yang tidak dikenal, hadiah palsu, serta penipuan yang melibatkan transaksi pribadi.
Peralatan di lembaga pendidikan komunitas itu hanya digunakan di kelas, dan keluarga didorong untuk membantu para peserta lansia membatasi waktu bermain gim di rumah serta mengatur akses terhadap pembayaran dalam gim.
Ye Jianwei, direktur pusat pelatihan lembaga pendidikan komunitas Binjiang, mengatakan bahwa kursus itu dirancang bukan untuk melatih pemain gim tingkat tinggi atau mendorong bermain gim dalam waktu yang lama, melainkan menggunakan e-sport sebagai sarana untuk literasi digital.
Bagi Zhou, manfaatnya terasa lebih langsung. Cucu perempuannya sangat senang karena kini neneknya bisa bermain gim, tuturnya, dan lebih sering datang berkunjung.
"Setelah selesai mengerjakan PR, dia kadang-kadang meringkuk di samping saya dan berkata, 'Nenek, satu ronde lagi, ya?'" ujar Zhou. "Saya senang bisa membantunya bersantai dengan cara seperti ini."
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































