Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan banyak negara ingin mengimpor pupuk urea dari Indonesia akibat Perang Iran-Amerika Serikat (AS).
"Gara-gara perang ini, itu hampir banyak negara menginginkan urea. Jadi banyak negara itu kemudian ingin impor urea banyak dari tempat kita. Kita diminta untuk ekspor banyak urea ke banyak negara, banyak negara minta pupuk urea berapapun harga dan biayanya," ujar Sudaryono di Jakarta, Kamis.
Situasi Perang Iran-AS yang sulit ini membuat Indonesia memiliki daya saing. Awalnya pabrik-pabrik pupuk milik Pupuk Indonesia yang sudah tua pelan-pelan akan diganti dengan membangun pabrik pupuk baru, karena pabrik-pabrik tua tersebut tidak efisien dan mahal.
Namun gara-gara perang yang sedang membara di Timur Tengah, banyak negara menginginkan untuk impor pupuk urea berapa pun harga dan biayanya sehingga membuat pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua tersebut dapat berproduksi lagi.
Baca juga: Investor Dubai bakal bangun pabrik urea di Jateng
"Sehingga ini jadi peluang (opportunity) yang tadinya pabrik pupuk kita yang tua yang tadinya istilahnya kita pelan-pelan mau ganti, sementara ini kita bisa produksi lagi karena banyak negara meminta. Ini sekarang satu kesempatan di tengah krisis ini industri pupuk kita Insya Allah ada geliatnya," kata Sudaryono.
Sebagai informasi, PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, BUMN tersebut memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia.
Pupuk Indonesia memastikan pasokan pupuk nasional tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































