Wakil Ketua MPR: Masih banyak yang belum sadar ancaman krisis iklim

2 hours ago 1
Tahun 2024 tercatat sebagai salah satu periode dengan suhu tertinggi, yang menjadi peringatan serius bagi dunia, termasuk Indonesia

Makassar (ANTARA) - Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mendorong pendekatan terpadu melalui sinergi solusi berbasis alam atau Nature-Based Solutions (NBS) dan Engineered-Based Solutions (EbS) sebagai upaya menghadapi krisis iklim yang kian mengkhawatirkan.

Eddy Soeparno dalam keterangannya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, mengatakan pada era modern ini masih banyak pihak yang belum sepenuhnya menyadari ancaman krisis iklim. Padahal dampak perubahan iklim telah mulai dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan dunia menghadapi tiga disrupsi besar yang mempengaruhi tatanan kehidupan global, yaitu pandemi COVID-19, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan konflik geopolitik dunia. Ketiganya berpengaruh terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Krisis iklim tuntut percepatan transisi energi

Saat dialog bertajuk “MPR Goes to Campus: Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim" di Universitas Hasanuddin (Unhas), Eddy Soeparno mengatakan isu krisis iklim semakin terasa melalui peningkatan suhu udara yang signifikan.

"Tahun 2024 tercatat sebagai salah satu periode dengan suhu tertinggi, yang menjadi peringatan serius bagi dunia, termasuk Indonesia,” katanya

Di sisi lain, lanjut dia, pengelolaan sampah di Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat. Produksi sampah nasional mencapai sekitar 52 juta ton per tahun, namun hanya sekitar 40 persen yang dapat dikelola.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Bencana di Aceh-Sumbar-Sumut tanda krisis iklim

Sisanya masih dibuang secara ilegal ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) maupun ke ruang publik. Sumber terbesar sampah berasal dari limbah makanan (food waste) serta sampah plastik yang banyak dihasilkan dari aktivitas pasar dan rumah tangga.

“Sebagai upaya menghadapi krisis tersebut, diperlukan pendekatan terpadu melalui solusi berbasis alam NBS dan EbS," ujar Eddy Soeparno.

"Pendekatan ini dapat menjadi pilar strategis dalam menanggulangi krisis iklim, sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi dan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya alam serta pengembangan teknologi rendah karbon,” tambahnya.

Baca juga: KLH sebut dunia sedang hadapi tiga krisis

Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |