Vance: AS masuk 'fase baru' tekanan ekonomi atas Iran

1 hour ago 3

Washington (ANTARA) - Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance mengatakan pihaknya telah memasuki "fase baru" dalam perang melawan Iran, di mana tekanan ekonomi kini menjadi alat paling efektif untuk mencapai tujuan Amerika.

"Kami sekarang berada dalam fase baru, di mana alat paling efektif yang kami miliki adalah tekanan ekonomi yang dapat kami terapkan kepada mereka (Iran). Kami akan terus melakukannya," kata Vance dalam wawancara dengan The Clay Travis & Buck Sexton Show, Kamis (20/8).

Dia mengakui strategi itu merupakan "langkah rumit" karena Iran mungkin akan mencoba membalas dengan memberikan tekanan ekonomi pada AS.

Namun, Vance mengatakan AS meyakini tekanan berkelanjutan adalah cara terbaik untuk mencapai tujuan pada akhirnya.

Baca juga: Pesawat pengintai AS deklarasikan "darurat" saat dekat Selat Hormuz

"Jika kami bisa memproduksi cukup minyak dan gas untuk memberikan sedikit keringanan bagi sebagian warga Amerika saat mengisi bahan bakar, maka itu akan meredakan tekanan pada harga energi," kata Vance dengan menambahkan itu juga akan "memberikan tekanan besar ekonomi" terhadap Iran dan mengubah perhitungan mereka.

Pernyataan Vance itu muncul tak lama setelah Kantor Pengendalian Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS menambahkan 10 orang ke dalam daftar sanksi yang terkait dengan Iran.

Sebelumnya pada Kamis (20/8), Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pihaknya akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.

"Tekanan ekonomi ini berarti kami akan melibatkan semua sekutu kami dan ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia," kata Bessent.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Trump: Negosiasi Iran terhambat karena banyak pemimpinnya tewas

Baca juga: Sekjen PBB prihatin eskalasi konflik Rusia-Ukraina

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |