Uni Eropa diwartakan siapkan aturan tarif untuk PHEV buatan China

17 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Uni Eropa diwartakan menyiapkan aturan tarif yang menyasar kendaraan hibrida plug-in (Plug-in Hybrid Electric Vehicle/PHEV) buatan China setelah memberlakukan kebijakan tarif pada kendaraan listrik buatan Tiongkok.

Ketika Uni Eropa menerapkan kebijakan tarif kendaraan listrik pada akhir 2024 guna menghambat masuknya mobil impor murah dari China ke wilayahnya, produsen otomotif Tiongkok beralih menjual PHEV yang dilengkapi dengan tangki bahan bakar.

Akibatnya, menurut siaran Carscoops pada Minggu (21/6), penjualan kendaraan hibrida merek China di Eropa sejak saat itu melonjak.

Kini, surat kabar bisnis Jerman, Handelsblatt, mewartakan bahwa Uni Eropa sedang menyiapkan kebijakan perdagangan baru yang ditujukan pada PHEV buatan China.

Langkah itu dinilai akan memperluas perang tarif di luar kendaraan listrik murni dan menutup apa yang sekarang dilihat sebagai celah oleh banyak produsen otomotif Eropa.

Seorang eksekutif industri mengatakan kepada Handelsblatt bahwa produsen China telah dengan cepat melihat celah tersebut dan memanfaatkannya. Menurut dia, "celah terbuka" itu harus ditutup oleh Uni Eropa.

Baca juga: China perbanyak mobil hibrida guna hindari tarif Uni Eropa

Peningkatan penjualan mobil varian PHEV buatan produsen China telah memicu kekhawatiran perusahaan otomotif di Eropa.

Handelsblatt mewartakan, registrasi PHEV BYD di Eropa meningkat jauh lebih cepat dibandingkan penjualan kendaraan listriknya tahun ini.

Chery juga telah mengirim puluhan ribu PHEV ke Eropa dan hanya sebagian kecil di antaranya yang berupa kendaraan listrik berbasis baterai.

Tren ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi produsen otomotif Eropa, yang sudah kesulitan mempertahankan pangsa pasar dari serbuan industri otomotif China, yang kini memasok satu dari setiap sepuluh mobil baru yang dijual di Eropa.

Usul penerapan aturan tarif baru untuk mengekang ekspansi produsen kendaraan China di Eropa diwartakan masih dalam tahap pembahasan.

Jika disetujui oleh negara-negara anggota, maka aturan tarif tersebut berpeluang diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang.

Namun, tidak semua pihak yakin langkah itu akan dapat sepenuhnya mengekang ekspansi produsen mobil China di pasar Eropa.

Analis UBS, Patrick Hummel, berpendapat pengenaan tarif tambahan kemungkinan tidak akan sepenuhnya menggagalkan rencana ekspansi China, karena margin keuntungan di Eropa masih sangat menarik.

Banyak pula produsen otomotif yang mulai memindahkan fasilitas produksi mereka ke tempat yang lebih dekat dengan konsumen Eropa.

Di antara produsen ada memanfaatkan pabrik yang kurang dimanfaatkan milik perusahaan mapan seperti Nissan atau merencanakan pembangunan pabrik lokal baru guna menghindari masalah tarif.

Penerimaan dan minat konsumen di Eropa terhadap mobil merek China terus meningkat meskipun pemerintah kini lebih terbuka dalam menjalankan langkah-langkah perdagangan yang lebih keras guna mengatasi kekhawatiran tentang daya saing industri.

Baca juga: Pelanggan Eropa kini dapat beli mobil listrik langsung dari China

Baca juga: China lebih banyak jual PHEV guna hindari tarif impor BEV di Eropa

Pewarta:
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |