Tunas Komdigi: dehumanisasi, dan kedaulatan digital di ujung jari

5 days ago 5

Jakarta (ANTARA) - Melalui Program Tunas Komdigi (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, negara hadir untuk melindungi anak-anak dari paparan konten negatif dan berbahaya di ruang digital.

Langkah pemerintah ini untuk menciptakan ekosistem digital lebih aman dan kondusif bagi anak-anak.

Dahulu, internet dipuja sebagai "taman sari" demokrasi dan oase ilmu pengetahuan. Publik membayangkan kehadiran internet sebagai sebuah ruang siber, di mana setiap orang bebas memetik buah kearifan informasi.

Akan tetapi fakta berkata lain. Ruang digital telah kehilangan nilai edukatif sebagai mimbar ilmu pengetahuan. Sebagian dijarah untuk arena "kasino raksasa", tanpa kontrol. Sebagian lagi menjelma menjadi laboratorium sosial, di mana algoritma bekerja lebih intim dalam pergaulan anak-anak kita. Padahal efek penghancurnya lebih masif dari candu narkotika.

​Transformasi digital ditandai dengan penerapan e-government seharusnya memberi manfaat nyata. Mendorong efisiensi pelayanan lebih cepat, hemat, dan transparan, tanpa proteksi, bentuk kelalaian kolektif. Maka, penguatan regulasi tidak boleh berhenti pada seremoni administratif, melainkan harus menjadi pernyataan perang terbuka terhadap anarkisme digital yang sudah berada di titik nadir.

Kepungan angka

​Memasuki awal 2026, penetrasi internet di Indonesia menembus angka 82,3 persen. Artinya, lebih dari 231 juta jiwa penduduk saling terkoneksi dalam ekosistem virtual.

Konektivitas masif bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi kehadirannya menopang ekonomi digital, di sisi lain ibarat menanam bom waktu sosial, dengan sumbu pendek. Sewaktu-waktu bisa meledak.

​Laporan terbaru menunjukkan eskalasi kejahatan siber semakin mengerikan. Dalam kurun setahun terakhir, Komdigi telah memblokir lebih dari 3,5 juta situs judi daring. Akumulasi transaksi judi daring sepanjang 2024-2025, bahkan menembus Rp600 triliun. Angka cukup fantastis, di mana uang rakyat sedang mengalir ke kantong bandar internasional, tanpa pajak dan manfaat, bahkan hanya menyisakan kemiskinan struktural.

Korbannya kian meluas, mulai dari pelajar SMP, hingga ibu rumah tangga. Mereka terjerat dalam lingkaran judi virtual dan pinjaman daring ilegal.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |