Toyota-CATL kerja sama pengembangan baterai mobil elektrifikasi di RI

3 hours ago 2
Komponen sel baterai dan modul yang saat ini diimpor, nantinya akan diproduksi oleh SDM Indonesia

Jakarta (ANTARA) - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggandeng Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin menyampaikan kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik nasional, khususnya pada rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir.

Kemitraan tersebut diumumkan bertepatan dengan peringatan 55 tahun Toyota Indonesia. Dalam kerja sama ini, TMMIN mengalokasikan investasi sebesar Rp1,3 triliun guna meningkatkan kapasitas produksi baterai sekaligus mendorong lokalisasi komponen penting di dalam negeri.

Disampaikan dia pula, kolaborasi dengan CATL akan memperluas kemampuan produksi baterai, tidak hanya pada tahap perakitan tetapi juga hingga produksi sel dan modul baterai.

Ia menyampaikan, saat ini TMMIN memiliki lini produksi baterai pack di pabrik Karawang, Jawa Barat, untuk memproduksi baterai Toyota Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, dan Yaris Cross HEV.

Melalui kolaborasi strategis dengan CATL di Indonesia, pihaknya berupaya meningkatkan kemampuan produksi battery assy pack hingga pembuatan sel baterai dan modul secara menyeluruh.

"Komponen sel baterai dan modul yang saat ini diimpor, nantinya akan diproduksi oleh SDM Indonesia. Kemitraan ini tidak hanya akan memperbesar investasi, tetapi juga mendukung inisiatif multipathway Toyota menuju netralitas karbon melalui penguatan rantai pasok lokal," kata dia.

Melalui kerja sama ini, Toyota juga memperdalam lokalisasi baterai hybrid electric vehicle (HEV) guna mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan daya saing industri otomotif nasional.

Penguatan kapasitas produksi domestik diharapkan mampu mendorong Indonesia menjadi basis produksi dan ekspor kendaraan elektrifikasi serta komponen utamanya ke pasar global.

Pihaknya, kata dia menargetkan ekspor baterai mulai paruh kedua 2026, baik dalam bentuk baterai yang terpasang pada kendaraan maupun komponen baterai secara terpisah.

Langkah ini menurutnya menandai peran Indonesia yang semakin penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam menegaskan bahwa pengembangan industri baterai juga akan memperkuat transformasi sektor otomotif nasional secara menyeluruh.

Proses ini menurutnya, secara bertahap memperkuat rantai pasok yang telah ada, dengan mengembangkan kapabilitas manufaktur kendaraan konvensional menjadi mampu memproduksi kendaraan elektrifikasi secara menyeluruh, khususnya HEV.

"Dengan demikian, selain mempertahankan ekosistem pemasok yang ada, TMMIN juga meningkatkan secara progresif dan bahkan berpotensi menarik mitra rantai pasok baru untuk mendukung transformasi industri,” ucap dia.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan kendaraan elektrifikasi sepanjang 2025 mencapai 177.367 unit, tumbuh 71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi kendaraan elektrifikasi juga mencapai 127.420 unit, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen HEV.

Baca juga: Pemasok baterai EV terbesar dunia CATL raup pendapatan Rp1 kuadriliun

Baca juga: BYD kaji ekosistem kelola baterai bekas mobil listrik di Indonesia

Baca juga: Penerapan insentif EV berdasarkan jenis baterai dinilai menguntungkan

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |