Jakarta (ANTARA) - Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar menyampaikan bentuk kolonialisme modern dapat terjadi ketika suatu bangsa hanya menjual bahan mentah tanpa mengolahnya lebih lanjut.
"Kalau kita hanya menjual mentahnya saja, kita belum menjadi tuan di negeri sendiri. Ketika kita mulai berpikir hilirisasi, itu langkah menuju kemandirian," kata Husein Ja'far dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Menurutnya, kemandirian bukan berarti menutup diri dari dunia. Sebuah bangsa tetap berinteraksi dan bekerja sama, tetapi memiliki kendali atas pengelolaan kekayaannya sendiri.
"Mandiri bukan berarti sendiri. Kita tidak bisa hidup sendiri, tetapi kita harus menjadi tuan di negeri sendiri. Mengelola dari hulu sampai hilir untuk kebaikan bangsa," katanya dalam satu acara buka puasa Grup MIND ID bersama media.
Ia menekankan bahwa ukuran utama dari kebijakan dan aktivitas ekonomi adalah manfaat yang dihasilkan.
Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW bersabda Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.
"Ukuran kebaikan itu manfaat. Bukan hanya untuk kelompoknya, bukan hanya untuk agamanya, tetapi untuk seluruh manusia, bahkan seluruh alam," ujar Husein Ja'far.
Oleh karena itu, lanjut dia, pengelolaan sumber daya alam harus diniatkan sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan, dijalankan dengan cara yang benar dan ditujukan untuk maslahat bersama.
"Hilirisasi yang benar adalah yang menghadirkan tambahan manfaat. Memberi nilai tambah bagi bangsa, memperkuat kedaulatan, dan tetap menjaga keberlanjutan," tuturnya.
Untuk itu, ia menilai hilirisasi bukan sekadar strategi industri, melainkan bagian dari ikhtiar bangsa untuk menghadirkan nilai tambah dan maslahat yang lebih luas.
Dengan mengelola sumber daya alam dari hulu hingga hilir di dalam negeri, manfaat yang tercipta tidak berhenti pada angka ekonomi, tetapi menguatkan kemandirian nasional.
Baca juga: Habib Husein sebut merdeka dari radikalisme masih jadi tugas bersama
Baca juga: Dai milenial: Ramadhan momen perkuat silaturahmi dan kebangsaan
Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































