Bangkok (ANTARA) - Wakil Perdana Menteri Thailand Phipat Ratchakitprakarn mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow akan memulai konsultasi mengenai pasokan minyak dengan Rusia, dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Eropa.
"Ada kabar baik hari ini. Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow melakukan perjalanan ke Eropa kemarin untuk konferensi internasional, dan akan memulai konsultasi mengenai pasokan minyak di sana," kata Ratchakitprakarn dalam sebuah pengarahan di Gedung Pemerintah.
"Jika kita menerima minyak dari Rusia, kita tidak akan lagi memiliki masalah," kata wakil perdana menteri.
Phuangketkeow berada di Wina untuk menghadiri KTT tentang pemberantasan penipuan yang diselenggarakan oleh Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) dan Interpol, yang juga dihadiri oleh delegasi Rusia dan akan menggunakan kesempatan tersebut untuk membahas mengenai pasokan minyak Rusia.
Sementara itu, pada Selasa, Kabinet akan membahas pembelian minyak dari Rusia dengan menteri energi, kata wakil perdana menteri, seraya mencatat bahwa ini akan menyelesaikan masalah pasokan.
Akibat konflik di Timur Tengah, pasokan minyak ke Thailand dari Teluk Persia, yang biasanya mencakup sekitar 50 persen dari impor minyak negara tersebut, berada dalam risiko.
Menyusul pelonggaran sebagian pembatasan AS terhadap minyak Rusia, Thailand pekan lalu menyatakan kesiapan untuk memulai negosiasi dengan Rusia terkait pembelian minyak mentah.
Di tengah eskalasi di Timur Tengah, Amerika Serikat mengizinkan penjualan minyak mentah dan produk minyak bumi Rusia yang dimuat ke kapal mulai 12 Maret.
Menurut Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) dan utusan khusus presiden Rusia untuk kerja sama ekonomi dengan negara-negara asing Kirill Dmitriev, pencabutan pembatasan AS akan memengaruhi 100 juta barel minyak Rusia yang sedang transit.
Sumber: Sputnik
Baca juga: AS cabut sanksi minyak Rusia, Thailand siap mulai negosiasi
Baca juga: Thailand terapkan kebijakan hemat energi karena kenaikan harga minyak
Baca juga: Pegawai negeri Thailand wajib WFH, hemat energi akibat krisis minyak
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































