Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat (Jakbar) mengangkut 60 ton tumpukan sampah yang berada di Depo Sampah RW 02, Kelurahan Duri Utara, Tambora, pada Selasa.
Dalam kegiatan pembersihan tersebut, satu unit ekskavator dan lima unit truk pengangkut sampah dikerahkan ke lokasi.
"Kegiatan ini menindaklanjuti atensi Wali Kota Jakarta Barat untuk memastikan masalah sampah tuntas dan dikelola dengan baik," kata Lurah Duri Utara Ari Kurnia saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Selain pengangkutan sampah, Kelurahan Duri Utara juga menerapkan teknologi eco lindi untuk mengatasi bau menyengat yang selama ini menjadi keluhan warga.
Eco lindi merupakan cairan ramah lingkungan yang mengandung bakteri pengurai untuk menetralkan bakteri penyebab bau pada tumpukan sampah.
"Bakteri dalam cairan eco lindi berfungsi menetralkan bakteri jahat penyebab bau busuk. Langkah ini diprioritaskan karena depo sampah Duri Utara berada di tengah permukiman padat penduduk," ujar Ari.
Baca juga: Pemkot Jakbar sasar satu RW di tiap kelurahan jadi contoh pilah sampah
Menurut dia, penerapan eco lindi menunjukkan hasil yang positif. Dalam tiga hari pertama penggunaannya, bau tidak sedap di area depo sampah berkurang secara signifikan.
Saat ini, tersedia stok sekitar 1.000 liter eco lindi yang disemprotkan dua kali sehari, masing-masing sebanyak 50 liter pada pagi hari dan setelah proses pengangkutan sampah selesai.
"Saat ini, tersedia stok 1.000 liter eco lindi. Penyemprotan eco lindi dua kali sehari, masing-masing 50 liter, yakni pagi dan setelah proses pengangkutan sampah selesai. Waktu itu dipilih karena aroma sampah lama mulai menguap saat loading," jelas Ari.
Pihaknya juga menyebutkan kegiatan pengurangan sampah organik turut dilakukan melalui pengomposan dan budidaya maggot.
Langkah tersebut, kata Ari, menindaklanjuti Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 55 Tahun 2021 tentang pengurangan dan penanganan sampah, yang menargetkan pengurang sampah residu maksimal 30 persen, sedangkan 70 persen sampah lainnya harus diolah.
"Bila organik diolah menjadi pupuk kompos dan maggot, sedangkan anorganik diolah di bank sampah. Saat ini, pemilahan sampah tingkat RW sudah mulai terlihat. Terbukti, volume residu yang diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), berkurang. Jika sebelumnya, diangkut tiap hari, kini cukup dua hari sekali untuk volume sampah residu yang sama," terang Ari.
Baca juga: Ratusan pedagang Pasar Angke Jakbar diwajibkan pilah sampah
Baca juga: Pemkot Jakbar kaji penerapan teknologi pirolisis atasi masalah sampah
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































