Studi: Semakin banyak bahasa dikuasai, penuaan otak cenderung melambat

6 hours ago 7

Jakarta (ANTARA) - Menguasai lebih dari satu bahasa ternyata berkaitan dengan proses penuaan otak yang lebih lambat, menurut penelitian terbaru yang melibatkan ratusan orang di Spanyol.

Penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang menguasai dua bahasa memiliki aktivitas otak yang terlihat sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan orang yang hanya menggunakan satu bahasa.

Pada orang yang menguasai tiga bahasa, perbedaannya mencapai sekitar tujuh tahun, sedangkan mereka yang menguasai empat bahasa menunjukkan aktivitas otak yang terlihat hingga 13 tahun lebih muda.

Mengutip laman Real Simple pada Jumat (18/9) waktu setempat, penelitian yang dipaparkan dalam forum Federation of European Neuroscience Societies (FENS) itu melibatkan 728 orang dari wilayah Basque, Spanyol, yang menguasai hingga empat bahasa.

Para peneliti menggunakan alat yang dapat merekam aktivitas sel-sel otak untuk melihat pola aktivitas otak pada peserta. Data tersebut kemudian digunakan untuk membuat perkiraan usia otak atau brain age.

Baca juga: Ahli saraf sebut konsumsi alkohol secara rutin percepat penuaan otak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bahasa yang dikuasai bukan satu-satunya faktor yang berhubungan dengan usia otak. Kemampuan menggunakan bahasa dan usia ketika seseorang mulai mempelajari bahasa kedua juga berpengaruh.

Ketua kelompok penelitian dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián Lucia Amoruso, mengatakan pengalaman menggunakan banyak bahasa memiliki pengaruh yang bertahap. Artinya, manfaat tersebut berkaitan dengan apakah seseorang bisa berbicara dua bahasa atau tidak, serta seberapa lama dan seberapa baik bahasa tersebut digunakan.

Peneliti juga mengingatkan bahwa kebiasaan hidup dan aktivitas sosial dapat memengaruhi kesehatan otak. Karena itu, hasil penelitian tersebut tidak dapat diartikan bahwa kemampuan berbahasa menjadi satu-satunya penyebab seseorang memiliki proses penuaan otak yang lebih lambat.

Penelitian selanjutnya akan melihat apakah kombinasi bahasa tertentu memiliki pengaruh berbeda terhadap aktivitas otak. Para peneliti juga ingin mengetahui bagaimana kemampuan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain berkaitan dengan fungsi otak.

Profesor Christina Dalla dari Medical School of the National and Kapodistrian University of Athens, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan belajar bahasa lain memiliki manfaat dalam aspek sosial, budaya, dan kesehatan otak.

Temuan tersebut menambah bukti penelitian mengenai hubungan antara kemampuan menggunakan banyak bahasa dan kesehatan otak sepanjang kehidupan.

Baca juga: Ahli temukan risiko demensia dapat dimulai sejak masa kanak-kanak

Baca juga: Penggunaan AI berlebih berisiko ganggu kemampuan berpikir

Baca juga: Bermusik bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan ingatan di usia senja

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |