Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan pemerintah melakukan penanganan simultan untuk mengatasi dampak kemarau panjang yang melanda 24 kabupaten/kota melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pengeboran, dan distribusi air bersih.
“Memang kemarau panjang ini sudah diprediksi dan BMKG sudah mengingatkan berkali-kali. Tetapi ikhtiar kita sudah maksimal. Saya menyebut maksimal karena sejak tanggal 3 September lalu kita sudah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca,” ujarnya dalam keterangan diterima di Surabaya, Sabtu.
Khofifah mengatakan penanganan kekeringan dilakukan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau panjang dan memberikan peringatan terkait kondisi tersebut.
Menurut dia, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah OMC sejak 3 September 2026 untuk memicu turunnya hujan di wilayah yang memiliki awan potensial.
“Ketika BMKG menyampaikan ada awan yang bergerak, itu langsung kita ikuti, langsung ditebar garam. Dan sudah menjadi hujan ringan sampai sedang,” katanya.
Selain OMC, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah daerah juga melakukan pengeboran di sejumlah titik untuk mencari sumber air baru bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Area yang terdampak ini kan luas, 24 kabupaten/kota. Dari 24 daerah ini, antisipasi mengebor sumur sudah dilakukan. Ada yang sukses dan ada yang belum sukses,” kata Khofifah.
Ia mengatakan distribusi air bersih juga terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.
“Jadi ikhtiar itu, betapa ingin saya sampaikan, kita sudah melakukan bersama-sama. Semua sudah kita lakukan,” tegasnya.
Khofifah mengatakan luasnya wilayah terdampak membuat penanganan kekeringan membutuhkan langkah yang dilakukan secara bersamaan, mulai dari pemenuhan kebutuhan air hingga pencarian sumber air baru.
Selain penanganan darurat, Pemprov Jatim menyiapkan langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air melalui pemetaan sumber air potensial, pencarian sumber air baru, penguatan infrastruktur penyediaan air, serta perlindungan terhadap sumber air yang tersedia.
“Ketika masyarakat membutuhkan air, tentu harus segera kita bantu. Tetapi pada saat yang sama, kita harus terus mencari solusi jangka panjang. Sumber-sumber air yang potensial perlu dipetakan, dikaji, dan kalau memungkinkan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Menurut Khofifah, kondisi geografis dan karakteristik wilayah Jawa Timur yang beragam membutuhkan penanganan kekeringan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
“Jangan sampai kita hanya bergerak ketika kekeringan sudah terjadi. Kita harus membangun kesiapsiagaan, memetakan sumber-sumber air, menjaga sumber yang sudah ada, dan menyiapkan langkah-langkah agar masyarakat memiliki ketahanan air yang lebih baik,” katanya.
Ia mengajak masyarakat menjaga lingkungan, kawasan resapan, dan sumber air sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air di Jawa Timur.
“Menjaga sumber air hari ini adalah bagian dari menjaga kehidupan kita di masa yang akan datang. Karena itu, mari bersama-sama menjaga lingkungan, kawasan resapan, sumber-sumber air, dan menggunakan air secara bijak,” katanya.
Di tengah berbagai upaya tersebut, Khofifah bersama Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra dan ratusan masyarakat mengikuti Sholat Istisqa dan doa bersama di halaman Pendopo Kabupaten Mojokerto, Jumat (18/9).
Khofifah mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar batin setelah berbagai langkah teknis dilakukan pemerintah.
Baca juga: Khofifah dorong perlindungan lahan pertanian selaras industrialisasi
Baca juga: PU salurkan 23,2 juta liter air hadapi kekeringan di Jateng dan Jatim
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































