Studi: Aktivitas kreatif berpotensi memperlambat penuaan otak

17 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan rutin dalam aktivitas kreatif seperti menari, membaca, hingga bermain gim video berpotensi membantu memperlambat penuaan otak terutama pada usia lanjut.

Peneliti dari SWPS University di Polandia menemukan bahwa aktivitas kreatif mendukung fungsi otak, juga berhubungan dengan usia otak yang lebih muda. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.

“Seiring populasi menua, semakin banyak orang yang mengalami penurunan kognitif dan demensia. Jika kita dapat mengidentifikasi aktivitas sehari-hari yang membantu otak tetap lebih ‘muda’, kita bisa menunda gangguan memori, perhatian, dan kemandirian,” kata psikolog dan Head of Center for Neurocognitive Research SWPS University, Aneta Brzezicka, kepada Medical News Today.

Penelitian ini menganalisis data kesehatan, termasuk pencitraan saraf, dari lebih dari 1.400 partisipan di 13 negara. Sebagian partisipan merupakan individu yang memiliki keahlian khusus dalam menari tango, bermusik, seni visual, dan permainan gim strategi.

Menurut Brzezicka, aktivitas kreatif menggabungkan berbagai unsur yang bermanfaat bagi otak. Aktivitas tersebut menuntut kemampuan kognitif, melibatkan emosi, sering bersifat sosial, serta membutuhkan koordinasi motorik halus.

Untuk mengukur usia otak, peneliti menggunakan model komputasi yang dikenal sebagai brain clock. Model ini memperkirakan usia otak berdasarkan pola aktivitas listrik otak yang direkam melalui Elektroensefalogram (EEG) dan Magnetoensefalografi (MEG).

Jika usia otak yang diprediksi lebih rendah dari usia kronologis, hal itu menunjukkan proses penuaan otak yang lebih lambat. Selisih antara usia otak dan usia sebenarnya disebut sebagai brain age gap.

Baca juga: Kebiasaan yang bisa diterapkan demi kesehatan mental dan otak

Hasil penelitian menunjukkan partisipan yang aktif dalam kegiatan kreatif memiliki usia otak yang lebih muda dibandingkan kelompok pembanding. Efek paling kuat terlihat pada individu yang telah mengembangkan keterampilan kreatifnya selama bertahun-tahun.

“Di semua bidang yang diteliti, para ahli memiliki pola aktivitas otak yang dinilai sekitar empat hingga tujuh tahun lebih muda dibandingkan individu lain dengan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan yang sama,” kata Brzezicka.

Manfaat serupa juga ditemukan pada partisipan yang mengikuti pelatihan jangka pendek. Dalam studi pelatihan gim strategi, partisipan yang berlatih sekitar 30 jam menunjukkan penurunan usia otak sekitar tiga tahun, disertai peningkatan perhatian dan kinerja.

Peneliti menyimpulkan bahwa otak orang dewasa tetap plastis dan dapat mengalami perubahan terukur dalam waktu relatif singkat.

Neuropsikolog dari Marcus Neuroscience Institute, Raphael Wald, menyebut hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga aktivitas mental melalui beragam kegiatan. Menurut dia, kreativitas berperan penting karena mendorong cara berpikir abstrak dan fleksibel.

Sementara itu, neuropsikolog klinis dari Hackensack Meridian Neuroscience Institute, Megan Glenn, menilai temuan ini menyoroti pentingnya membangun cadangan kognitif sejak usia lebih muda. Ia menyebut pengembangan minat kreatif dapat menjadi investasi jangka panjang untuk kesehatan otak.

Para ahli menyarankan masyarakat memilih aktivitas kreatif yang disukai agar dapat dilakukan secara berkelanjutan. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan secara profesional untuk memberikan manfaat bagi fungsi kognitif.

Baca juga: Bahan alami spearmint dinilai berpotensi dukung fungsi kognitif

Baca juga: Studi: Hobi kreatif dapat membuat otak tampak lebih muda

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |