Strategi Crypto & Saham 2026: Evolusi Portofolio Modern Melawan Arus Likuiditas Global

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) – Di tahun 2026, pepatah lama “jangan melawan The Fed” masih berlaku di pasar modal, namun dengan nuansa yang lebih kompleks. Saat ini, kita berada di tengah fenomena yang oleh para pakar strategi makro disebut sebagai Soft Quantitative Easing (Soft QE).

Ini adalah era di mana devaluasi mata uang terjadi dalam senyap. Tidak ada cek bantuan yang dikirim ke kotak pos, namun likuiditas di pasar antarbank (repo market) melimpah ruah. Bank sentral melakukan intervensi bedah untuk menjaga pasar obligasi tetap hidup, yang secara efektif meningkatkan jumlah uang beredar (M2) tanpa memicu kepanikan publik.

Dampaknya adalah harga kebutuhan pokok mungkin naik perlahan, tetapi harga aset investasi seperti saham teknologi, properti, emas, dan Bitcoin, naik jauh lebih cepat. Bagi mereka yang masih memegang paradigma investasi lama (menabung uang tunai atau deposito), ini adalah bencana yang tidak disadari. Sebab, nilai kekayaan mereka sedang dicuri oleh inflasi moneter.

Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana lanskap investasi telah berubah, mengapa institusi beralih ke Bitcoin dan derivatif, serta bagaimana Anda dapat mereplikasi strategi kelas dunia ini menggunakan infrastruktur Pluang.

Bab 1: Kematian Portofolio 60/40 dan Kebangkitan "Hard Asset"

Selama puluhan tahun, standar emas investasi adalah portofolio 60/40 (60% saham, 40% obligasi). Teori dasarnya adalah ketika saham turun, obligasi akan naik dan melindungi nilai portofolio.

Di tahun 2026, korelasi ini rusak. Di bawah rezim Soft QE, baik saham maupun obligasi bisa bergerak searah karena keduanya sangat sensitif terhadap likuiditas bank sentral. Obligasi, yang dulunya dianggap "bebas risiko" (risk-free), kini dipandang sebagai "bebas imbal hasil" (return-free risk) secara riil karena bunganya tidak mampu mengejar laju pencetakan uang M2.

Inilah alasan mengapa investor institusional mulai mengadopsi Bitcoin sebagai jangkar baru. Bitcoin bukan lagi dipandang sebagai "saham teknologi yang volatil", melainkan sebagai aset moneter independen yang memiliki kelangkaan absolut (absolute scarcity).

Ketika M2 meningkat, investor membutuhkan aset yang suplainya tidak bisa didilusi. Bitcoin, dengan batas keras 21 juta koin, bertindak sebagai penyerap likuiditas yang sempurna. Di Pluang, kami melihat tren di mana investor tidak lagi bertanya "apakah Bitcoin aman?", melainkan "berapa persen alokasi Bitcoin yang cukup untuk menyeimbangkan inflasi fiat?".

Bab 2: Konvergensi Pasar: Saham Sebagai Proksi Crypto

Salah satu perkembangan paling canggih di tahun 2026 adalah bagaimana investor memanfaatkan pasar saham Amerika Serikat untuk mendapatkan eksposur terhadap tema crypto. Strategi ini memungkinkan investor untuk tetap berada di zona likuiditas pasar saham yang dalam, namun mendapatkan keuntungan dari volatilitas aset digital.

Di platform Pluang, terdapat tiga jenis "Saham Proksi" yang menjadi favorit manajer investasi:

Pertama, MicroStrategy (MSTR) sebagai Instrumen Leverage. MicroStrategy telah mengubah dirinya dari perusahaan perangkat lunak menjadi perusahaan pengelola aset Bitcoin de facto. Keunikan MSTR terletak pada penggunaan utang korporasi untuk membeli Bitcoin. Ini menciptakan efek pengungkit (leverage).

Bayangkan Anda membeli rumah dengan KPR; jika harga rumah naik, keuntungan modal Anda dihitung dari total harga rumah, bukan hanya dari uang muka yang Anda bayar. MSTR bekerja dengan prinsip serupa. Kenaikan harga Bitcoin sering kali diterjemahkan menjadi kenaikan harga saham MSTR yang berlipat ganda.

Kedua, Coinbase (COIN) sebagai Taruhan Ekosistem. Jika MSTR adalah taruhan pada harga, Coinbase adalah taruhan pada infrastruktur. Sebagai bursa terbesar di AS, pendapatan Coinbase berkorelasi dengan volume transaksi dan volatilitas pasar. Di era Soft QE, perputaran uang meningkat drastis. Membeli saham COIN di Pluang berarti Anda berinvestasi pada "kasino", bukan pada "pemain judinya". Tidak peduli siapa yang menang atau kalah dalam trading harian, "rumah" (bursa) selalu menang melalui biaya transaksi.

Ketiga, Robinhood (HOOD) sebagai Indikator Sentimen Ritel. Saham Robinhood sering kali bergerak seirama dengan antusiasme investor ritel global. Ketika berita tentang Bitcoin masuk ke media massa utama, saham HOOD biasanya menjadi yang pertama merespons. Ini menjadikannya alat taktis yang sangat baik untuk menangkap momentum jangka pendek.

Bab 3: Demokratisasi Derivatif: Dari Judi Menjadi Asuransi

Perubahan terbesar dalam perilaku investor ritel Indonesia di tahun 2026 adalah adopsi instrumen derivatif. Dulu, kata "Options" dan "Futures" terdengar menakutkan dan identik dengan kebangkrutan. Kini, instrumen tersebut dilihat sesuai fungsi aslinya: manajemen risiko presisi.

Begini cara investor cerdas menggunakan alat ini dalam dua kondisi pasar berbeda:

Skenario Pasar Optimis (Bullish): Investor pemula akan membeli saham secara langsung. Investor cerdas mungkin menggunakan strategi Long Call Option pada saham seperti MSTR. Dengan membeli Opsi Call, Anda membayar premi kecil untuk mengunci harga beli saham di masa depan. Jika harga saham MSTR melonjak, keuntungan persentase dari Opsi Call akan jauh melampaui keuntungan memegang saham fisik.

Atau, investor bisa menggunakan strategi Short Put. Jika Anda mengincar saham Coinbase (COIN) namun harganya masih terlalu tinggi, Anda bisa menjual Opsi Put. Anda akan langsung menerima uang tunai (premi) di depan.

Skenario Pasar Pesimis atau Waspada (Bearish/Hedging): Apa yang Anda lakukan jika portofolio Bitcoin Anda sudah untung besar, tapi Anda khawatir ada koreksi pasar nantinya?

Solusinya adalah Hedging atau lindung nilai. Di Pluang, Anda bisa membeli Put Option pada saham proksi atau membuka posisi Short di Crypto Futures. Jika pasar jatuh, nilai instrumen ini akan naik drastis. Keuntungan dari posisi short/put ini akan menambal kerugian penurunan harga pada aset utama Anda.

Bab 4: Navigasi Regulasi dan Efisiensi Pajak 2026

Tidak ada diskusi strategi investasi yang lengkap tanpa membahas implikasi pajak. Keuntungan kotor hanyalah angka di layar, keuntungan bersih setelah pajak adalah apa yang bisa Anda bawa pulang. Tahun 2026 membawa rezim perpajakan yang sangat jelas dan menguntungkan bagi investor aset digital di Indonesia.

Pemerintah telah menetapkan aturan main yang adil melalui PMK 50/2025, dan memahami nuansa ini bisa menghemat jutaan Rupiah bagi Anda.

Keunggulan Pajak Crypto Spot: Transaksi aset crypto fisik (Spot) di Pluang menikmati perlakuan pajak yang sangat istimewa. Untuk setiap transaksi pembelian, tarif pajaknya adalah 0%. Saat Anda memutuskan untuk menjual (taking profit), Anda dikenakan PPh Pasal 22 yang bersifat final dengan tarif hanya 0,21% dari nilai transaksi.

Sifat "Final" ini sangat penting, sebab kewajiban pajak Anda selesai detik itu juga. Pajak dipotong otomatis oleh Pluang dan Anda tidak perlu menghitung ulang atau membayar kekurangan bayar dalam laporan SPT Tahunan Anda. Ini memberikan kepastian hukum dan kemudahan administrasi yang luar biasa.

Rezim Pajak Saham AS dan Derivatif: Di sisi lain, instrumen Saham AS, Options, dan Crypto Futures diperlakukan sebagai investasi konvensional. Keuntungan modal (Capital Gain) yang Anda peroleh dari instrumen ini harus dicatat dan dilaporkan secara mandiri dalam SPT Tahunan, dan akan dikenakan tarif PPh Pasal 17 (Tarif Progresif) sesuai dengan total penghasilan Anda.

Selain itu, khusus untuk transaksi derivatif (Options dan Futures), terdapat komponen PPN sebesar 12%. Namun, perlu digarisbawahi bahwa PPN ini hanya dikenakan pada biaya transaksi (trading fee), bukan pada nilai investasi pokok Anda.

Masa Depan Milik Mereka yang Bersiap

Kita sedang hidup di masa transisi ekonomi yang bersejarah. Gelombang likuiditas Soft QE sedang mengubah definisi "uang" dan "aset" di depan mata kita. Model investasi tradisional yang pasif sedang ditinggalkan, digantikan oleh model portofolio hibrida yang menggabungkan kelangkaan Bitcoin, daya ledak Saham Proksi, dan perlindungan Opsi Derivatif.

Dinding pemisah antara Wall Street dan Crypto telah runtuh. Di aplikasi Pluang, semua instrumen ini tersedia berdampingan dalam satu layar. Anda memiliki akses ke alat yang sama dengan yang digunakan oleh manajer investasi global.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang ketersediaan akses, melainkan tentang kesiapan strategi Anda dalam mengambil langkah taktis guna menunggangi gelombang likuiditas ini.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |