Beijing (ANTARA) - Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengungkapkan masa depan hubungan Tiongkok dan Amerika Serikat masih membutuhkan rasa saling percaya.
"Sikap China selalu positif dan terbuka, kuncinya adalah pihak AS juga harus bergerak ke arah yang sama. Saya yakin, selama kedua negara tulus dan membangun hubungan berdasarkan kepercayaan, kami dapat terus memperpanjang daftar kerja sama dan mempersingkat daftar masalah," kata Menlu Wang Yi menjawab dalam konferensi pers soal "Kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China" di Beijing, China pada Minggu.
Wang Yi menyampaikan hal itu menanggapi pertanyaan wartawan soal kemungkinan agenda pembicaraan dalam kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China yang dijadwalkan akan berlangsung pada 31 Maret sampai 2 April 2026 tersebut.
"Tahun 2026, kata Wang Yi, memang merupakan 'tahun besar bagi hubungan China-AS dan agenda pertemua tingkat tinggi sudah ada di atas meja kami," tambah Wang Yi.
Wang Yi mengakui hubungan China-AS menyentuh kepentingan semua pihak dan memengaruhi dunia.
"Kedua negara tidak berhubungan satu sama lain hanya akan menimbulkan salah paham dan salah penilaian, sementara konflik dan konfrontasi hanya akan membawa bencana bagi dunia," ungkap Wang Yi.
Baik China maupun AS, jelas Wang Yi, adalah sama-sama negara besar, dan tidak mungkin saling mengubah satu sama lain, tetapi dapat mengubah cara bersikapt terhadap satu sama lain.
"Caranya adalah dengan menjunjung sikap saling menghormati, menjaga batas hidup berdampingan secara damai, dan mengupayakan prospek kerja sama yang saling menguntungkan. Inilah yang sesuai dengan kepentingan rakyat kedua negara dan juga sesuai dengan harapan masyarakat internasional," tambah Wang Yi.
Namun, meski China dan AS punya pengaruh besar terhadap dunia, tapi Wang Yi mengatakan ada lebih dari 190 negara di dunia.
"Sejarah dunia selalu ditulis bersama oleh semua negara, dan masa depan umat manusia selalu diciptakan bersama oleh rakyat semua negara. Kehidupan bersama dalam keberagaman adalah wajah asli masyarakat manusia, dan koeksistensi multipolar adalah bentuk yang semestinya dimiliki tatanan internasional," tambah Wang Yi.
Sehingga, setiap terjadi perebutan hegemoni antarnegara besar dan konfrontasi blok, hal itu selalu membawa bencana dan penderitaan bagi umat manusia.
"Karena itu, China sama sekali tidak akan menempuh jalan lama yang menganggap negara kuat pasti mendominasi. Konstitusi China secara jelas menetapkan bahwa negara harus berpegang pada kebijakan luar negeri independen dan mandiri, serta berpegang pada jalan pembangunan damai," tegas Wang Yi.
China, kata Wang Yi, pun tetap berpegang dalam prinsip untuk membangun dunia multipolar yang setara dan tertib.
"Yang dimaksud dengan setara adalah bahwa negara, tanpa memandang besar kecil atau kuat lemah, semuanya merupakan anggota yang setara dalam masyarakat internasional, dan semuanya dapat menemukan posisi masing-masing dalam tatanan multipolar serta memainkan peran yang semestinya sedangkan tertib adalah semua negara harus mematuhi aturan internasional yang diakui secara umum yaitu dan Piagam PBB serta norma dasar hubungan internasional," jelas Wang Yi,
Terakhir kali Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump berkomunikasi adalah melalui panggilan telepon pada 5 Februari 2026.
Saat itu Presiden Xi menekankan bahwa masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan China-AS sehingga AS harus menangani masalah penjualan senjata ke Taiwan dengan bijaksana.
AS diketahui melakukan penjualan senjata dan peralatan terkait senilai lebih dari 11 miliar dolar AS sekitar Rp183,9 triliun) pada 17 Desember 2025 lalu. Atas tindakan tersebut, pemerintah China sudah menyatakan protes keras kepada AS.
Sedangkan Trump mengatakan AS ingin bekerja sama dengan China dan membuat lebih banyak kemajuan dalam hubungan bilateral.
Baca juga: China minta tak ada pengganggu ke hubungannya dengan Amerika Latin
Baca juga: China dikabarkan mulai dukung Iran dalam konflik dengan AS-Israel
Baca juga: China kutuk keras serangan AS-Israel yang targetkan warga sipil Iran
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































