Sinkronisasi ekonomi makro untuk proteksi pariwisata Bali

3 hours ago 1
Kita perlu memastikan bahwa keindahan Bali bukan hanya menjadi milik mereka yang datang dari benua lain, tetapi juga tetap menjadi rumah yang ramah dan terjangkau bagi bangsanya sendiri

Jakarta (ANTARA) - Penobatan Bali sebagai Destinasi Terbaik Dunia 2026 versi TripAdvisor bukanlah sekadar seremoni musiman.

Prestasi tersebut menjadi legitimasi global yang menempatkan Pulau Dewata di puncak piramida pariwisata dunia, melampaui magnet legendaris seperti London dan Paris.

Namun, di balik gegap gempita apresiasi jutaan pelancong tersebut, terselip sebuah alarm ekonomi yang mulai berdering kencang.

Predikat nomor satu dunia membawa konsekuensi logis berupa lonjakan permintaan yang tidak selalu berbanding lurus dengan stabilitas harga di tingkat lokal dan keterjangkauan bagi warga negaranya sendiri.

Masalah mendasar yang kini membayang adalah ancaman inflasi sektoral yang dipicu oleh tingginya minat kunjungan.

Ketika sebuah wilayah menjadi magnet utama, hukum pasar bekerja tanpa kompromi: permintaan tinggi terhadap ketersediaan sumber daya yang terbatas akan mengerek harga ke atas.

Bagi para pelaku industri besar, fenomena tersebut mendatangkan berkah devisa yang luar biasa, namun bagi masyarakat lokal dan wisatawan domestik, realita ini bisa menjelma menjadi "pajak tersembunyi" yang menggerus daya beli secara perlahan namun pasti.

Jika tidak dikelola dengan mitigasi yang tepat, Bali berisiko menjadi eksklusif bagi pemegang mata uang asing, sementara terasing dari jangkauan ekonomi anak bangsa.

Fokus kritis analisis ini bukan untuk meredupkan optimisme nasional, melainkan menyoroti titik lemah pada ekosistem pendukung pariwisata, terutama sektor transportasi udara.

Harga tiket pesawat ke Bali belakangan ini seolah menjadi barikade fisik yang memisahkan keindahan pulau tersebut dari jangkauan masyarakat kelas menengah Indonesia.

Tanpa intervensi regulasi yang cerdas, kita berisiko terjebak dalam fenomena tourism-led inflation, di mana Bali menjadi "terlalu mahal" bagi Indonesia, namun tetap dianggap murah bagi dunia.

Inilah urgensi untuk membedah bagaimana menjaga daya beli tetap tegak di tengah terpaan inflasi pariwisata yang kian agresif.

Anatomi inflasi aviasi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |