Beijing (ANTARA) - “Ayo, semuanya fokus. Kalau sudah dalam posisi sempurna, badannya jangan goyang. Jangan biasakan melihat ke bawah, jangan buru-buru. Ingat hitungannya,” kata Kevin Sujana tegas di tengah teriknya matahari musim panas Beijing pada pertengahan Agustus 2026.
Kevin merupakan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing sekaligus salah satu pelatih Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) untuk upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.
Pernyataan tegas itu ditujukan kepada sepuluh anggota Paskibra yang bertugas dalam upacara pengibaran bendera. Mereka merupakan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh studi di Beijing, yakni Aurelia Pavitta dan Erwin Atsyandy dari Peking University; George Christopher Daniel, Gracella Jasocelyne Chung, Jonathan Nathanael, Kenneth Cahyadi, Kezia Aureliai, Mikhael Bradevon W, dan Yohanes Raditya Pradjna Budi Nugroho dari Beijing Institute of Technology; serta Luc Satiwi dari Beijing Foreign Studies University.
“Mereka lolos seleksi kemampuan baris-berbaris yang kami lakukan sebelumnya. Awalnya ada sekitar 22 orang yang mendaftar,” ungkap Dicky Nugraha Kurniawan, pelatih Paskibra lainnya yang juga merupakan staf KBRI Beijing.
Formasi sepuluh orang tersebut tentu berbeda dari formasi 17-8-45 yang digunakan dalam upacara di Istana Merdeka, Jakarta, dengan lapangan yang jauh lebih luas. Lapangan di KBRI Beijing hanya berukuran sekitar 50 x 10 meter.
“Kami mengkreasikan sendiri formasi sepuluh orang ini. Jumlah anggota Paskibra sedikit dan lapangannya juga tidak terlalu besar, tetapi tetap harus memperlihatkan kemampuan baris-berbaris yang tegas,” tambah Dicky.
Anggota Pasukan pengibar bendera (Paskibra) berlatih di KBRI Beijing pada Senin (10/8/2026) (ANTARA/Desca Lidya Natalia)Salah satu strategi yang diterapkan adalah memperlambat tempo langkah anggota Paskibra dibandingkan dengan Paskibra di Istana Merdeka atau lokasi lain. Dengan begitu, peserta upacara dapat melihat setiap gerakan mereka dengan lebih jelas di lapangan.
Secara keseluruhan, anggota Paskibra menjalani 12 kali latihan untuk mematangkan formasi, menyamakan gerakan, serta melatih sikap tubuh sempurna yang harus dikuasai setiap anggota saat bertugas.
Latihan berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026, bertepatan dengan musim panas di Beijing. Karena itu, ketahanan fisik menjadi salah satu aspek yang turut dilatih.
“Tentu kami tidak melatih mereka sekeras militer. Namun, ketahanan fisik dan disiplin tetap harus dijaga. Karena itu, ada latihan lari maupun hukuman ‘push-up’ bagi mereka yang melakukan kesalahan,” kata Kevin Sujana, pelatih Paskibra lainnya yang juga merupakan staf KBRI Beijing.
Yohanes Raditya Pradjna Budi Nugroho, yang biasa dipanggil Dito, mengaku menikmati perannya sebagai anggota Paskibra.
“Ini sudah tiga kali saya menjadi anggota Paskibra. Jadi, selama di China, saya tidak pernah pulang ke Indonesia saat liburan musim panas. Meski tidak pulang, saya senang bisa menjadi anggota Paskibra dan mengenal banyak orang,” kata Dito, yang tahun ini mendapat posisi sebagai pembentang bendera Merah Putih.
Berbeda dengan Dito yang sudah berpengalaman, Mikhael Bradevon W baru pertama kali mengikuti Paskibra.
“Saya baru pertama kali ikut dan ingin mencoba hal yang baru. Pengalaman sebelumnya hanya ikut jambore,” kata Mikhael, yang akrab disapa Mika.
Baca juga: KBRI Beijing gelar upacara HUT ke-81 RI, doakan korban gempa NTT
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































