Sejarawan ungkap perubahan keyakinan Kerajaan Kutai Hindu ke Islam

4 hours ago 2
Keputusan ini menandakan awal era baru bagi Kutai Kertanegara, karena Islam menjadi agama resmi kerajaan dengan corak religiusitas yang inklusif dan akomodatif serta mengusung toleransi antar-umat beragama

Samarinda (ANTARA) - Sejarawan Kalimantan Timur (Kaltim) Muhammad Sarip menuturkan pendekatan dakwah yang inklusif dari keteladanan ulama Tuan Tunggang Parangan berhasil mengubah corak keyakinan Kerajaan Kutai dari monarki Hindu menjadi Islam secara damai pada masa lampau.

"Keputusan ini menandakan awal era baru bagi Kutai Kertanegara, karena Islam menjadi agama resmi kerajaan dengan corak religiusitas yang inklusif dan akomodatif serta mengusung toleransi antar-umat beragama," ujar Sarip di Samarinda, Minggu.

Ia mengatakan titik balik sejarah peradaban di tepian Sungai Mahakam tersebut bermula pada kurun waktu tahun 1575 ketika sang mubalig menginjakkan kaki di kawasan Tepian Batu.

Sarip menceritakan Raja Makota yang memimpin pemerintahan saat itu memberikan sambutan hangat dan secara terbuka menerima ajaran baru tersebut tanpa adanya paksaan.

Baca juga: Sejarawan Kaltim ungkap aksi kepahlawanan Sultan Kutai Islam pertama

Kesuksesan syiar agama ini dipengaruhi oleh karakter sang ulama yang kharismatik serta selalu mengedepankan kelembutan dalam berinteraksi dengan penduduk lokal.

"Pengaruh pergeseran budaya ini juga tercermin dari pemberian nama bernuansa kearifan Islam bagi para putra mahkota, seperti Maharaja Sultan dan Raja Mandarsyah," ucap dia.

Jauh sebelum tiba di Tanah Borneo, tokoh penyebar agama ini sebenarnya telah menyepakati pembagian tugas dakwah lintas pulau bersama pemuka agama lain bernama Datuk Ri Bandang.

Kolaborasi para ulama tersebut awalnya menyasar wilayah Kesultanan Tanete di Sulawesi Selatan untuk meredakan ketegangan sosial akibat perbedaan pemahaman keyakinan.

Baca juga: Menelusuri jejak Islam masuk ke Tanah Kutai

Namun sebuah kabar mengejutkan mengenai kembalinya sebagian masyarakat Makassar ke kepercayaan leluhur, kata dia, memaksa Datuk Ri Bandang untuk segera berputar arah.

Kondisi mendesak itu membuat Tuan Tunggang Parangan harus menyeberangi Selat Makassar sendirian demi melanjutkan misi penyebaran ajaran tauhid ke Pelabuhan Kutai Lama.

Mengingat besarnya peninggalan jasa sang ulama di tengah dinamika sejarah tersebut, kata dia, pemerintah daerah melakukan pemugaran kompleks makamnya senilai satu miliar rupiah.

Proyek revitalisasi ini bertujuan menjadikan peristirahatan terakhir sang habib sebagai destinasi wisata religi, budaya, dan sejarah yang terintegrasi secara utuh.

Baca juga: Makam Raja di Kutai Lama Diziarahi Ribuan Orang

Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |