Seba, jejak warga Badui Dalam menjaga tradisi

4 hours ago 2
Dalam langkah-langkah panjang menuju Seba, tersimpan komitmen untuk merawat tradisi, menjaga alam, dan mempertahankan keseimbangan yang menjadi dasar kehidupan mereka.

Lebak (ANTARA) - Sekitar pukul 03.00 WIB, ketika sebagian besar orang masih terlelap, puluhan warga Badui Dalam berjalan beriringan menembus gelapnya hutan di kawasan Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten.

Tanpa penerangan, mereka menyusuri jalan setapak di perbukitan curam, jalur yang sama yang kerap menyimpan risiko, dari medan licin hingga ancaman ular berbisa.

Perjalanan itu bukan peristiwa luar biasa bagi mereka. Warga Badui Dalam memang terbiasa berjalan kaki ke mana pun, tanpa kendaraan. Namun, perjalanan kali ini memiliki tujuan khusus, yaitu mengikuti tradisi Seba, sebuah ritual tahunan yang menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat adat Badui.

Dari kampung-kampung inti seperti Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik di Desa Kanekes, mereka menempuh perjalanan panjang menuju Rangkasbitung, lalu melanjutkan ke Kota Serang. Total jarak pulang-pergi yang ditempuh mencapai sekitar 200 kilometer. Seluruhnya dilakukan dengan berjalan kaki, sesuai ketentuan adat yang masih mereka pegang teguh.

Di sepanjang perjalanan, mereka beristirahat secukupnya. Bekal sederhana berupa nasi, umbi-umbian, dan hasil ladang, menjadi sumber tenaga. Meski melelahkan, perjalanan ini dijalani dengan kesadaran penuh bahwa Seba bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kewajiban adat yang sakral.

“Kami berjalan kaki untuk mengikuti Seba setelah menjalani Kawalu (tradisi puasa dan ritual syukur tahunan suku Baduy) selama tiga bulan. Ini sudah menjadi aturan dari leluhur,” kata Rahman (50), warga Badui Dalam, saat ditemui di Lebak, Sabtu (25/4).

Dalam tradisi Seba, masyarakat Badui mendatangi pemerintah daerah sebagai bentuk silaturahmi sekaligus penyampaian pesan adat. Mereka menyebut kepala daerah sebagai “Bapak Gede”. Selain itu, mereka juga menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi, buah-buahan, dan laksa sebagai simbol penghormatan.

Permintaan yang disampaikan pun sederhana: jaminan kehidupan yang aman, damai, dan terjaga.

Baca juga: Kawalu, Kampung Badui Dalam ditutup bagi pengunjung mulai 20 Januarii

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |