Jakarta (ANTARA) - Memasuki musim 2023-2024, jersei retro kembali menjadi tren fashion di kalangan para penggemar sepak bola, bahkan merembet ke mereka yang bukan penggemar sepak bola.
Didorong oleh tren fashion blokecore, jersei retro yang merupakan jersei sepak bola dari klub-klub sepak bola dengan desain yang sudah dirilis pada dekade 80, 90 hingga 2000-an, dipadukan dengan celana kasual demi bisa menunjang penampilan yang jauh lebih sporty.
Penggemar membeli jersei sepak bola retro klub maupun tim nasional karena mempunyai nilai nostalgia serta desain ikonik yang timeless.
Selain itu jersei retro merupakan koleksi yang bernilai historis karena menjadi bahan keterwakilan penanda era keemasan klub atau momen besar di masa lalu.
Industri fashion terus bergerak dan mempunyai pasar yang cukup besar dengan tidak menyasar penggemar sepak bola saja. Ini membuat jenama-jenama besar seperti Adidas, Nike, hingga Puma melihat peluang tersebut sebagai sebuah inovasi.
Misalkan saja Adidas yang kembali mereproduksi ulang jersei ikonik Juventus. Jersei retro yang diproduksi atas kerjasama dengan Studio Sgura ini merupakan baju tempor Si Nyonya Tua yang terinspirasi dari jersei polo pada musim 1996-1997.
Tak mau ketinggalan, Nike sebelumnya juga telah merilis jersei retro yang direproduksi kembali. Dalam nuansa Piala Afrika 2025, Nike yang menjadi sponsor dari tim nasional Nigeria kembali memproduksi balutan seragam memorabilia pada tahun 1996 yang dikenakan untuk Olimpiade.
Mengusung memorabilia yang mengingatkan para penggemar akan era-era jersei klub-klub pada masa lalu, tentu penjualan jersei retro menemukan pangsa pasar yang besar dan kini menjadi salah satu faktor pendongkrak penjualan jersei.
Industri jersei kini merupakan pendapatan yang sangat menjanjikan bagi klub. Oleh sebab itu tidak sedikit klub merilis jersei ketiga atau keempat dengan nuansa jersei retro atau juga merilis jersei edisi khusus memorabilia seperti yang dilakukan oleh Real Madrid ataupun Manchester United yang bekerjasama dengan Adidas.
Dari segi penjualan jersei, menurut studi dari Eormericas Sports Marketing, industri ini sangatlah menghasilkan pundi-pundi uang ke kantong klub.
Dalam studi tersebut, Real Madrid menjadi klub dengan penjualan jersey tertinggi pada tahun 2025 dengan mencatatkan penjualan 3.133.000 unit sekaligus memecahkan rekor penjualan pada tahun 2024.
Di urutan kedua terdapat rival abadi Los Blancos, Barcelona, yang mencatatkan penjualan jersei sebanyak 2.940.000 unit setelah jersei dengan nomor punggung Lamine Yamal mendongkrak penjualan baju tempur klub Catalan tersebut.
Lalu jawara Liga Champions 2024/2025, Paris Saint-Germain, naik ke posisi ketiga setelah menjual total 2.546.000 jersei sepanjang 2025. Reputasi markas PSG, yakni kota Paris sebagai kota mode, sangatlah menunjang penjualan.
Produksi narasi jersei retro yang bernilai sebagai bahan memorabilia dan satu nostalgia untuk para penggemar memantik operator LaLiga untuk bergerak membangun inovasi dengan menyatukan sepak bola dengan industri fashion.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































