Raih lisensi WLA, BPOM ajak HSA Singapura kembangkan vaksin terbaru

11 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengajak Health Sciences Authority (HSA) Singapura untuk berkolaborasi dalam mengembangkan vaksin untuk berbagai jenis penyakit baru di dunia.

Hal tersebut diungkapkan Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam kegiatan penandatanganan nota kesepahaman antara BPOM dan HSA Singapura di Kantor BPOM di Jakarta, Kamis, menyusul penetapan status BPOM sebagai Otoritas Terdaftar di Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO-Listed Authority (WLA).

"Kami mengusulkan untuk meningkatkan hubungan secara khusus terkait WHO-Listed Authority untuk vaksin. Dan sekarang kami ingin belajar bagaimana mendapatkan pengakuan tersebut untuk obat dan farmasi," katanya.

Taruna mengungkapkan baik Indonesia maupun Singapura keduanya memiliki keunggulan dalam mengembangkan vaksin.

Baca juga: BPOM instruksikan Nestle stop sementara distribusi formula bayi

Ia memaparkan Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia.

Jumlah tersebut juga berbanding lurus dengan luas wilayah, kondisi geografis, dan keanekaragaman hayati yang kaya dan beragam. Sehingga, Indonesia menjadi negara yang sangat cocok untuk mengembangkan berbagai jenis vaksin.

"Kami memiliki semua jenis penyakit di sini, mulai dari penyakit menular hingga penyakit degeneratif dan tidak menular. Semua jenis penyakit di dunia ada di Indonesia," ujarnya yang juga ahli farmakologi itu.

Di samping itu, lanjut Taruna, kekayaan alam Indonesia juga dapat dimanfaatkan dalam bidang pengembangan obat-obatan herbal.

Baca juga: BPOM resmi ditetapkan sebagai Otoritas Terdaftar WHO

Menanggapi hal itu, CEO HSA Singapura Raymond Chua menyambut baik inisiatif tersebut. Menurut dia, pesatnya perkembangan dunia kesehatan, terlebih melalui kecerdasan buatan (AI) akan dapat melahirkan banyak jenis obat baru.

Jika seluruh pihak berjalan secara individu, ia menilai keterbatasan sumber daya dapat terjadi, termasuk di Indonesia maupun Singapura.

Dalam hal ini, lanjut Raymond, pihak yang paling dirugikan adalah pasien. Sebab, mereka akan menghadapi hambatan dan keterlambatan dalam mengakses terapi-terapi yang hemat biaya dan yang menyelamatkan nyawa.

"Oleh karena itu, jika kita dapat bekerja sama untuk merampingkan proses guna memastikan bahwa berbagai pengobatan dapat sampai kepada pasien jauh lebih cepat, maka kita tidak hanya memberi manfaat bagi pasien, tetapi juga bagi industri," ucapnya.

"Hal ini juga dapat menjadikan ASEAN sebagai pilihan pertama atau kawasan pilihan utama bagi industri, selain Amerika Serikat dan Uni Eropa. Jika hal tersebut dapat kita capai, itu akan menjadi sebuah tonggak pencapaian yang sangat signifikan," tutur Raymond Chua.

Baca juga: Perkuat pengawasan, BPOM jalin kerja sama dengan HSA Singapura

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |