PWNU Jatim: Mujahadah Kubro pererat persatuan jaga keutuhan NKRI

6 hours ago 3

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz menyatakan Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama dimaknai sebagai ajang mempererat persatuan dan persaudaraan guna menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dalam pidato sambutannya saat pelaksanaan Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad, mengatakan semangat mempererat persatuan dan persaudaraan adalah warisan pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari sejak 100 tahun lalu.

"Kami senantiasa menjaga tradisi yang diwariskan pendiri Nahdlatul Ulama untuk selalu mempererat persatuan, kesatuan, persaudaraan sebagai warga NU guna menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Gus Kikin.

Gus Kikin mengemukakan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari selalu menyerukan kepada setiap warga NU atau nahdliyin supaya terus mengedepankan rasa cinta, kasih sayang, kerukunan, dan ikatan jiwa dalam menggerakkan roda organisasi.

Apa yang menjadi petuah Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari terus dipertahankan hingga era modern ini.

Nahdlatul Ulama, lanjutnya saat ini telah tumbuh pesat sebagai organisasi dengan nama besar dan memiliki anggota lebih dari 100 juta orang.

"Tentu ini merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga dan dijalankan dengan kerja keras," ujarnya.

Gus Kikin juga menegaskan Nahdlatul Ulama akan terus membersamai dan mempererat hubungan dengan masyarakat serta pemerintah dalam mengemban mandat demokrasi.

Kebersamaan tersebut menjadi sebuah jalan menguatkan peran organisasi sebagai penjaga tradisi dan mengembangkan peradaban yang berpedoman pada riset keilmuan dan kaidah dasar pendirian Nahdlatul Ulama.

"Organisasi ini terasa manis di orang yang baik, tapi terasa sesak di tenggorokan orang yang jahat," kata dia.

Selain itu, Gus Kikin menekankan kepada seluruh nahdliyin di Jawa Timur supaya menciptakan kedamaian di setiap wilayah tempat tinggalnya.

"Harus saling menasihati, bekerja sama, memberikan petuah yang menyembuhkan, dakwah yang menyelamatkan, dan argumen yang kuat. Dawuh Hadratus Syeikh sangat relevan dan aktual hingga hari ini," tuturnya.

Baca juga: Ketua PP Fatayat NU: Perempuan muslim harus jadi arsitek perubahan

Baca juga: PBNU luncurkan NU Harvest Maslaha untuk perkuat ekonomi syariah

Baca juga: PBNU gelar puncak peringatan Harlah Ke-100 di Istora Senayan

Pewarta: Ananto Pradana
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |