Dari FOMO ke JOMO: Saat anak muda mulai nyaman tidak ikut semua tren

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Media sosial membuat berbagai tren bisa datang dan pergi dalam waktu singkat. Hari ini semua orang membicarakan tempat nongkrong baru, besok berganti dengan tren fesyen, makanan, olahraga, hingga aktivitas yang dianggap wajib dicoba.

Bagi sebagian anak muda, mengikuti tren memang bisa menjadi cara untuk bersosialisasi dan mendapatkan pengalaman baru. Namun, ada juga yang mulai merasa lelah jika harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai.

Dari sinilah istilah JOMO atau Joy of Missing Out semakin menarik perhatian. Jika FOMO (Fear of Missing Out) menggambarkan rasa takut tertinggal dari pengalaman yang sedang dinikmati orang lain, JOMO justru menggambarkan rasa nyaman ketika seseorang memilih untuk tidak ikut serta.

Sederhananya, JOMO adalah ketika seseorang bisa berkata, "tidak apa-apa kalau saya tidak ikut," tanpa terus merasa khawatir telah melewatkan sesuatu.

Baca juga: Psikolog beri kiat membuat resolusi tahun baru yang realistis

Baca juga: Jalani hidup tanpa panik ala "JOMO" dari Tanya Dalton

Apa bedanya FOMO dan JOMO?

FOMO biasanya muncul ketika seseorang melihat orang lain sedang melakukan sesuatu yang dianggap menyenangkan atau penting. Melalui media sosial, perasaan tersebut bisa semakin kuat karena seseorang terus mendapatkan berbagai informasi tentang aktivitas orang lain.

Penelitian terhadap pengguna media sosial menunjukkan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial dan berbagai aspek psikologis. Sementara itu, JOMO muncul sebagai konsep yang berlawanan, yaitu menikmati keputusan untuk tidak selalu terhubung atau mengikuti semua aktivitas yang sedang berlangsung.

Ketika melihat teman-teman mengunggah foto sedang menghadiri sebuah acara, seseorang dengan FOMO mungkin berpikir, "Kenapa saya tidak ikut? Jangan-jangan saya ketinggalan sesuatu."

Sementara itu, seseorang yang menerapkan JOMO bisa berpikir, "Acara itu mungkin seru, tetapi saya memang sedang ingin beristirahat di rumah."

Keduanya sama-sama mengetahui adanya acara tersebut. Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang menyikapi pilihan untuk tidak ikut.

Kenapa anak muda mulai nyaman dengan JOMO?

Salah satu faktornya adalah semakin tingginya intensitas penggunaan media sosial. Ketika setiap aktivitas terus dibagikan secara online, seseorang bisa merasa seolah-olah harus selalu mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain.

Penelitian mengenai Generasi Z di Jawa Tengah yang diterbitkan pada 2026 menemukan adanya pengaruh positif dan signifikan antara kecenderungan melakukan perbandingan sosial dengan FOMO. Artinya, semakin kuat kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin tinggi pula FOMO yang dapat dialami.

Karena itu, memilih untuk sesekali tidak mengikuti arus bisa menjadi cara untuk mengurangi tekanan tersebut.

JOMO bukan berarti tidak peduli dengan lingkungan. Justru, konsep ini lebih dekat dengan kemampuan menentukan mana yang memang ingin dilakukan dan mana yang boleh dilewatkan.

Baca juga: Siasat hadapi anak yang sedang FOMO

Tidak semua tren harus diikuti

Salah satu bentuk JOMO yang paling sederhana adalah berhenti merasa harus mencoba semua hal yang sedang viral.

Misalnya, ada tempat makan baru yang sedang ramai. Kalau memang penasaran dan sesuai dengan kondisi, tentu boleh saja dicoba. Tetapi jika sebenarnya tidak tertarik, tidak ada kewajiban untuk datang hanya karena semua orang membicarakannya.

Begitu juga dengan tren fesyen, gawai, olahraga, maupun aktivitas lainnya.

Tren pada dasarnya hanya menjadi pilihan. Bukan aturan yang menentukan apakah seseorang masih dianggap mengikuti perkembangan zaman atau tidak.

JOMO bukan berarti menjauhi teman

Kesalahpahaman yang cukup umum adalah menganggap JOMO berarti seseorang harus selalu menyendiri.

Padahal, tidak demikian.

Seseorang tetap bisa bertemu teman, menghadiri acara, mengikuti komunitas, dan menikmati berbagai aktivitas sosial. Bedanya, keputusan tersebut dibuat karena memang ingin, bukan semata-mata karena takut tertinggal.

Misalnya, menolak ajakan nongkrong karena sedang ingin mengerjakan hobi di rumah tidak otomatis berarti menjauh dari pertemanan.

Begitu pula sebaliknya, pergi bersama teman karena memang ingin bertemu dan bersenang-senang juga tidak berarti seseorang gagal menerapkan JOMO.

Baca juga: Conscious living: Cara jalani hidup lebih sadar tanpa ikut-ikutan

Baca juga: Terlalu sering scroll, remaja rentan cemas dan turun percaya diri

Baca juga: Cegah FOMO, Indodax galakkan literasi aset digital dan kripto

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |