Presiden pun memilih berkunjung ke gunungan sampah

9 hours ago 6
Mereplikasi model bukan berarti menyalin infrastrukturnya, melainkan memahami mengapa Banyumas berhasil, lalu menerjemahkan logika itu ke dalam konteks yang berbeda

Jakarta (ANTARA) - Sampah-sampah itu diangkut pada ban berjalan, menanjak, menuju mesin yang lebih besar lagi. Mesin besar yang berputar kencang di bagian dalamnya memisahkan sampah-sampah tadi jadi dua aliran berbeda, organik dan plastik.

Di sudut lain fasilitas yang sama, larva lalat hitam mengurai sisa nasi dan sayuran menjadi protein ternak. Pada area lain lagi, lembaran plastik tadi dicacah lalu dilebur jadi likuid lengket untuk kemudian dicetak menjadi genteng dan paving yang keras.

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan proses-proses itu di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berwawasan Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) Wlahar Wetan, Kabupaten Banyumas, pada 28 April.

Rasanya ganjil ketika pemimpin negara berkunjung ke tempat yang terdapat gunungan sampah berbukit-bukit, yang kemudian para ajudan akhirnya menyediakan masker untuk dikenakan Presiden.

"Sampah, pengolahan sampah, sekarang jadi prioritas nasional. Dalam dua tiga tahun kita harus kendalikan sampah seluruh Indonesia," kata Prabowo.

Pernyataan Presiden tegas untuk persoalan lingkungan yang terus bertumpuk ini. Prabowo menegaskan bahwa pengelolaan sampah telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas nasional yang harus ditangani secara terstruktur, dan model Banyumas, yang berhasil mereduksi sampah hingga 80 persen sebelum menyentuh tempat pemrosesan akhir, akan dijadikan cetak biru untuk diterapkan secara nasional.

Indonesia menghasilkan 27,74 juta ton sampah pada 2024, atau setara dengan 76 ribu ton per hari. Itu bukan cuma angka besar. Itu adalah gunungan sampah yang terus bertambah setiap hari, setiap tahun, dan pernyataan bahwa sistem pengelolaan sampah yang berlaku selama ini sudah tidak memadai.

Model "kumpul-angkut-buang" yang menjadi konsep pekerja pengelolaan sampah di hampir seluruh daerah selama ini telah membuat sebagian besar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menanggung beban melebihi kapasitasnya.

Komposisi sampah nasional turut memperumit persoalan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa proporsi sampah plastik telah naik dari 15,88 persen pada 2019 menjadi 19,65 persen pada 2024.

Plastik sulit terurai, tidak terserap industri daur ulang konvensional jika kualitasnya rendah. Dan, dalam skenario terburuk, akan berakhir di laut.

Indonesia saat ini masih tercatat sebagai salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia. Pemerintah merespons kondisi ini dengan target yang ambisius, yaitu mengendalikan permasalahan sampah pada 2029 dengan konsep zero waste.

TPST BLE di Banyumas bukanlah tempat biasa-biasa saja kalau sampai dikunjungi oleh Presiden. Kabupaten di Jawa Tengah ini memberi gambaran pengelolaan sampah yang dilakukan secara terpadu mulai dari infrastruktur, teknologi, komunitas, dan pasar, dapat diintegrasikan dalam satu sistem yang saling menopang.

Inti dari model ini adalah TPST yang dioperasikan secara desentralisasi di tingkat kecamatan dan desa oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Di TPST Kedungrandu, misalnya, fasilitas ini melayani lebih dari 3.100 pelanggan dengan kapasitas olah 15 ton per hari.

Kunci efisiensinya adalah mesin pemilah sampah otomatis yang dikenal sebagai mesin "gibrik", mesin yang tergambarkan di bagian awal tadi. Ini adalah inovasi lokal yang menggantikan pemilahan manual, memisahkan sampah organik dan anorganik dengan kapasitas tinggi dengan proses yang lebih higienis.

Sampah anorganik, terutama plastik residu bernilai rendah seperti kresek dan bungkus kemasan yang tidak terserap daur ulang konvensional, diarahkan ke jalur Refuse Derived Fuel (RDF). Proses ini mencakup pemilahan, pencacahan, dan pengeringan biologis hingga sampah mencapai nilai kalor yang cukup untuk digunakan sebagai bahan bakar industri.

Produk pengolahan sampah

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |