Jakarta (ANTARA) - Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan salah satu yang ditunggu-tunggu setiap menjelang lebaran, karena THR sering terasa seperti hadiah kecil setelah setahun bekerja keras.
Praktisi asuransi Vivin Arbianti Gautama mengatakan, wajar kalau rasanya ingin langsung merayakan dengan belanja berbagai keperluan, tapi di tengah perayaan itu, ada satu hal yang sering terlupakan, di mana setelah Lebaran usai, hidup tetap berjalan seperti biasa.
Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah itu, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa menyatakan, mengalokasikan sebagian THR untuk belanja Lebaran itu penting, karena momen ini datang hanya setahun sekali.
Namun dia mengingatkan, ketika semuanya terasa perlu untuk dibelanjakan, perlu jeda sejenak dan bertanya, apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat.
Baca juga: TASPEN imbau pensiunan waspada penipuan saat pencairan THR
Oleh karena itu, menurut dia, mengatur porsi belanja dengan sadar membantu untuk tetap menikmati tren tanpa harus membayar dengan stres finansial setelahnya.
"THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan, sehingga perlu dikelola dengan tujuan yang jelas," katanya.
Setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi prioritas yakni ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga.
Perencanaan keuangan bukan hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi apa yang sudah kita kumpulkan. Jika pencari nafkah tiba-tiba tidak dapat bekerja, tabungan bisa cepat terkuras.
Baca juga: Dua modus penipuan digital yang harus diwaspadai jelang THR cair
"Karena itu, mengalokasikan sebagian THR untuk perlindungan keluarga adalah bentuk tanggung jawab dan ikhtiar kita untuk menjaga dari risiko. Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang memastikan keluarga tetap aman dan tenang setelah perayaan berlalu," katanya.
Vivin mengingatkan, kestabilan keuangan adalah bagian dari rasa aman yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat terasa dampaknya.
Menurutnya, ada strategi sederhana yang bisa diterapkan untuk mengatur keuangan menjelang Lebaran, yaitu dengan formula 50 – 30 – 20 (50 persen dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran termasuk zakat, 30 persen untuk masa depan dan tabungan, 20 persen untuk perlindungan finansial seperti dana darurat maupun asuransi).
Pengaturan tersebut bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, namun prinsip utamanya tetap sama, yakni menikmati momen saat ini tanpa melupakan pentingnya mengamankan masa depan.
Baca juga: Siasat mengatur prioritas dalam menggunakan THR untuk melunasi utang
"THR dapat menjadi momen untuk evaluasi kondisi finansial. Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas pengeluaran, Lebaran adalah waktu yang tepat untuk memperkuat tabungan atau dana darurat," katanya.
Bagi yang sudah mulai melek finansial, menyisihkan sebagian THR untuk investasi juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih tenang. THR bisa menjadi modal awal atau tambahan untuk aset jangka panjang.
"Bukan berarti harus langsung besar, namun konsisten," ujarnya.
Tentu saja, Lebaran juga tentang berbagi, tambahnya menyisihkan sebagian THR untuk zakat dan sedekah memberi makna lebih dalam pada perayaan.
Baca juga: Soal pajak THR swasta, Purbaya: Kebijakan pajak dijalankan dengan adil
"Ini bukan hanya tentang kewajiban, tetapi tentang nilai yang ingin kita tanamkan dalam keluarga, bahwa rezeki terbaik adalah yang juga dibagikan," katanya.
Pada akhirnya,Vivin menegaskan mengelola THR adalah bagaimana mengoptimalkan dana tersebut untuk beragam kebutuhan tanpa mengorbankan kestabilan setelahnya.
Pewarta: Subagyo
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026


















































