Politik bebas aktif dan kedaulatan bangsa

6 days ago 7

Jakarta (ANTARA) - Krisis di Timur Tengah dalam waktu hari terakhir, telah bertransformasi menjadi perang terbuka antara (koalisi) AS -Israel, melawan Iran, menandai babak baru dalam dinamika politik global.

Semua negara, kini berhitung ulang mengenai kesiapan menghadapi dampak langsung dari perang ini, salah satunya soal penutupan Selat Hormuz.

Konflik terbuka di Timur Tengah telah memperpanjang daftar ketidakpastian dunia, sebagai dampak pertarungan geopolitik yang juga terjadi di belahan lain, seperti perang berlarut antara Rusia dan Ukraina.

Kemudian Asia Timur juga menyimpan potensi konflik, terkait saling klaim kewilayahan di Laut China Selatan. Juga konflik laten terkait masa depan hubungan China dan Taiwan, yang dikhawatirkan juga bisa menjadi sebuah perang terbuka.

Situasi geopolitik global kiwari semakin kompleks. Eskalasi konflik dan perang secara kualitatif terus meningkat, dengan kompleksitas yang seakan sulit diurai.

Politik domestik dan rivalitas geopolitik dunia sudah pada fase mengancam peradaban, seperti yang terjadi di Gaza, hari-hari ini.

Sejarah memperlihatkan, begitu rivalitas geopolitik masuk dalam satu konflik, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik menjadi semakin lama.


Prinsip bebas aktif

Partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian, merupakan wujud komitmen konstitusional bangsa Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia serta memperkuat stabilitas internasional melalui jalur diplomasi.

Kehadiran Indonesia di Board of Peace harus dipahami sebagai bagian dari peran untuk menjaga perdamaian.

Partisipasi Indonesia dalam forum perdamaian internasional, seperti BOP, juga sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menegaskan kewajiban Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) menandai babak baru dalam artikulasi politik luar negeri yang semakin adaptif, fleksibel, dan berorientasi pada hasil konkret.

Di tengah dinamika global yang terfragmentasi oleh rivalitas kekuatan besar, Indonesia tidak lagi sekadar menegaskan prinsip bebas dan aktif sebagai doktrin normatif, tetapi menerjemahkannya dalam langkah strategis yang terukur.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |