Perbaiki kualitas MBG, SPPG Kemayoran evaluasi karyawan secara berkala

6 hours ago 7

Jakarta (ANTARA) - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kemayoran Harapan Mulia 1, Jakarta Pusat terus memperbaiki kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengevaluasi seluruh karyawan secara berkala tiap satu hingga dua minggu sekali.

SPPG yang memiliki 50 karyawan tersebut hari ini kembali menjalankan Program MBG pascalibur Lebaran 2026, yang melayani 3.298 penerima manfaat untuk tujuh sekolah di Jakarta Pusat, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita (3B).

"Sebenarnya kita melihat semua karyawan ini, mereka sudah beretika, tetapi kembali lagi, kami terus mengevaluasi kemampuan SDM relawan. Kita setiap seminggu atau dua minggu sekali melakukan evaluasi terhadap relawan, baik itu edukasi gizi, kemampuan pelatihan relawan, dan lain sebagainya," kata Kepala SPPG Kemayoran Harapan Mulia 1 Fakhri Irfan Pribadi di Jakarta, Selasa.

Sebagai langkah perbaikan sekaligus antisipasi kasus keracunan pangan, SPPG Kemayoran Harapan Mulia 1 juga memastikan selalu mengecek higienitas dari masing-masing dari relawan sebelum mulai bekerja di dapur MBG.

Baca juga: BGN pastikan layanan MBG tetap optimal di tengah kebijakan WFH

"Kemudian, kita di sini juga dari penerimaan bahan baku sampai distribusi, telah menerapkan sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), di mana kita harus tahu terlebih dahulu titik kritis kontrolnya. Jadi, kalau misal dari penerimaan bahan baku, dari awal ada bahan baku yang menurut kita dari bau, aroma, atau teksturnya tidak sesuai, kita berhak mengembalikan ke pemasok," ujar dia.

Fakhri juga memastikan untuk pengolahan limbah di SPPG-nya terkontrol dengan baik mengikuti standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis (juknis) dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Ia menambahkan, tidak ada perbedaan signifikan dari segi menu yang diberikan kepada penerima manfaat dari sebelum atau sesudah Lebaran. Perbedaan menonjol hanya terjadi ketika menu dirapel sebelum SPPG libur, yang disebut sebagai menu istimewa.

"Kalau untuk menu pas Lebaran, hampir 80 persen kering, tetapi untuk 20 persennya kita pernah menu kering itu diolah, seperti puding atau makaroni schotel. Menu rapelnya itu kita akumulasikan dengan harga satu harinya itu kan Rp10.000, jadi dikali tujuh hari sebesar Rp70.000, itu perintah dari pusat langsung, namanya waktu itu menu istimewa," kata Fakhri.

Baca juga: Perbaiki kualitas MBG, SPPG Kemayoran beri label waktu konsumsi

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |