Moskow (ANTARA) - Angkatan Darat Amerika Serikat menetapkan target produksi lebih dari 5.500 PrSM, rudal balistik taktis generasi baru, untuk menggantikan rudal permukaan-ke-permukaan ATACMS yang sudah tua.
Namun, menurut analisis koresponden RIA Novosti terhadap laporan Angkatan Darat AS tahun anggaran 2026, baru sekitar 18,5 persen dari target tersebut tercapai di tahun ini.
Target produksi rudal PrSM secara resmi diidentifikasikan dalam dokumen anggaran AS sebagai Obyek Akuisisi AD sebanyak 5.547 rudal, yang dibagi menjadi dua versi berbeda dalam sistem persenjataan tersebut.
Jumlah itu mencakup 3.986 unit rudal Increment 1 versi dasar dan 1.589 unit varian Increment 2, yang menambahkan sistem pencari target khusus untuk menyerang target maritim bergerak dan target darat yang dapat dipindahkan.
Baca juga: Laporan: AS tembakkan 850 rudal Tomahawk ke Iran, stok senjata menipis
Menurut laporan justifikasi, jumlah spesifik tersebut mewakili total inventaris yang dianggap perlu oleh militer Amerika untuk memodernisasi sistem persenjataan presisi jarak jauhnya, sekaligus mempertahankan keunggulan kuantitatif dalam operasi multi-domain.
Peningkatan produksi dimulai dengan 26 rudal pada tahun anggaran 2021, yang diikuti 54 rudal pada tahun anggaran 2022 dan 50 rudal pada tahun anggaran 2023, demikian menurut riwayat pengadaan resmi.
Setelah ada jeda laporan di tahun 2024, Angkatan Darat AS lalu melaporkan pembelian 250 rudal pada tahun anggaran 2025 dan 152 rudal lagi pada tahun anggaran 2026. Totalnya, angka tersebut mencakup versi dasar dan versi lanjutan dari sistem senjata tersebut.
Baca juga: AS diminta transparan buka detail proyek Golden Dome Rp2,9 kuadriliun
Penghilangan data dalam catatan publik tahun anggaran 2024 itu merupakan tindakan yang disengaja oleh Angkatan Darat AS untuk menghindari pengungkapan informasi sensitif. Namun demikian, laporan anggaran menunjukkan biaya produksi berulang sebesar $805,6 juta (Rp13,6 triliun) untuk periode tersebut.
Jika dibagi dengan biaya per unit, yang ditetapkan sekitar $1,61 juta (Rp27,3 miliar) ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya, maka angka tersebut menunjukkan untuk pengadaan sekitar 500 rudal. Sehingga, total produksi PrSM hingga tahun anggaran 2026 tercatat sekitar 1.032 unit.
Sementara itu, hasil produksi gabungan dari sekitar 1.032 rudal hingga tahun anggaran 2026 menunjukkan bahwa Angkatan Darat AS baru mencapai sekitar 18,5% dari total target pengadaan rudal dalam program tersebut.
Terkait ekspansi industri yang meningkatkan kapasitas produksi tahunan dari 300 menjadi 400 rudal pada tahun anggaran 2025, Lockheed Martin dan Departemen Pertahanan AS menyelesaikan perjanjian kerja baru pada Rabu (25/3) lalu untuk melipatgandakan kapasitas produksi.
Perjanjian itu diperbarui untuk debut tempur sistem senjata tersebut selama Operasi Epic Fury yang sedang berlangsung melawan Iran sejak awal Maret lalu.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: TNI AL pertimbangkan rudal dari Italia-Turki untuk KRI Prabu Siliwangi
Penerjemah: Katriana
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































