Washington (ANTARA) - The New York Times melaporkan bahwa sebuah penyelidikan militer yang masih berlangsung menyebutkan hasil awal yang menyatakan bahwa serangan rudal Tomahawk Amerika Serikat (AS) di sebuah sekolah dasar di Iran, yang menewaskan lebih dari 160 orang dan sebagian besar di antaranya adalah siswa, disebabkan oleh kesalahan dalam penentuan target.
Para pejabat yang telah mendapatkan pengarahan singkat tentang penyelidikan itu mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa perwira di Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS menentukan koordinat serangan menggunakan informasi intelijen yang sudah usang dari Badan Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency/DIA), sehingga menyebabkan kesalahan penargetan.
Temuan tersebut masih bersifat awal, dan sejumlah pertanyaan penting masih belum terjawab, termasuk mengapa informasi yang sudah usang itu tidak diperiksa ulang, kata pejabat sebagaimana dikutip The New York Times.
Serangan pada 28 Februari di Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh di Minab terjadi saat operasi militer AS yang menargetkan pangkalan militer Iran di dekatnya.
Laporan itu menyebutkan bahwa meski temuan itu sudah menjadi perkiraan banyak kalangan karena AS merupakan satu-satunya negara dalam konflik tersebut yang diketahui menggunakan rudal Tomahawk, insiden kesalahan penargetan itu telah mendiskreditkan serangan militer AS di Iran.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan bahwa Iran-lah, bukan AS, yang bertanggung jawab atas serangan terhadap sekolah itu.
"Berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One pada Sabtu (7/3).
Rudal Tomahawk "dijual dan digunakan oleh negara-negara lain. Dan bisa saja itu Iran, (yang) juga memiliki beberapa Tomahawk," kata Trump pada Senin (9/3).
"Seperti yang diakui The New York Times dalam laporannya sendiri, penyelidikan saat ini masih berlangsung," kata Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt, dalam sebuah pernyataan.
Kalangan analis mengatakan serangan terhadap sekolah yang penuh dengan siswa tersebut dapat tercatat sebagai salah satu kesalahan militer paling destruktif dalam beberapa dekade terakhir.
Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































