Jakarta (ANTARA) - Pendekatan medis berbasis terapi dinilai semakin dibutuhkan dalam penanganan obesitas seiring meningkatnya prevalensi kelebihan berat badan dan risiko penyakit metabolik di masyarakat.
Certified Obesity & Weight Management Consultant Dr. Guadelupe Maria Melissa mengatakan obesitas bukan semata persoalan kelebihan asupan makanan, tetapi berkaitan dengan mekanisme biologis tubuh, termasuk gangguan kendali nafsu makan dan rasa kenyang.
“Secara medis, banyak pasien obesitas memiliki kecenderungan cepat lapar dan sulit merasa kenyang. Kondisi ini membuat pengaturan porsi makan menjadi sangat menantang, meskipun sudah ada niat untuk menurunkan berat badan,” kata Guadelupe dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Asupan protein hewani penting dalam penanganan obesitas anak
Ia menjelaskan perubahan perilaku, pola makan, dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama dalam penurunan berat badan jangka panjang.
Namun, dalam jangka pendek, intervensi medis dapat berperan membantu pasien mengendalikan rasa lapar agar proses perubahan gaya hidup lebih mudah dijalani.
Salah satu terapi yang saat ini digunakan dalam penanganan obesitas adalah semaglutide, obat yang bekerja dengan mengaktifkan reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1).
Baca juga: Rekomendasi latihan untuk turunkan berat badan bagi penderita diabetes
Mekanisme tersebut membantu mengontrol kadar gula darah sekaligus mempercepat rasa kenyang, sehingga asupan kalori dapat ditekan.
Guadelupe menegaskan penggunaan semaglutide tidak dapat disamakan dengan solusi instan.
Terapi ini harus dijalankan dengan pengawasan medis, disertai pengaturan pola makan rendah kalori dan peningkatan aktivitas fisik agar hasilnya aman dan berkelanjutan.
Baca juga: Ahli ingatkan risiko obesitas picu kompleksitas pengendalian kadar LDL
“Hasil terbaik justru dicapai ketika terapi obat dipadukan dengan pendampingan gizi dan evaluasi rutin. Tanpa itu, risiko efek samping dan kegagalan jangka panjang bisa meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Medical Officer LIGHT Group Anna Yesito Wibowo mengatakan meningkatnya kebutuhan pendekatan medis mendorong klinik layanan kesehatan mengembangkan program penanganan obesitas yang lebih terstruktur.
Menurut dia, terapi semaglutide perlu ditempatkan dalam kerangka penanganan komprehensif, bukan sebagai satu-satunya solusi.
“Pendekatan medis harus dimulai dari skrining yang ketat, penentuan dosis yang disesuaikan dengan kondisi pasien, serta pemantauan berkala,” kata Anna.
Baca juga: Diet pembatasan kalori bantu otak dan usus batasi asupan makanan
Anna menyampaikan, LIGHThouse Clinic memiliki program SemaSlim bagi pasien obesitas yang mengalami kesulitan menahan nafsu makan dan dijalankan melalui pemberian injeksi semaglutide yang didampingi oleh dokter serta ahli gizi.
Ia menyebut, keamanan dan efektivitas semaglutide telah diakui sejumlah otoritas kesehatan internasional seperti Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris Raya, hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia.
“Program SemaSlim dirancang sebagai program penurunan berat badan yang komprehensif, guna memastikan pasien mendapatkan pengalaman penurunan berat badan yang aman, terkontrol dan berkelanjutan,” kata Anna.
Baca juga: Respons rekomendasi WHO, Kemenkes kaji GLP-1 untuk terapi obesitas
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































