Pakar: Digitalisasi layanan keuangan bantu bisnis UMKM

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies Prasasti Piter Abdullah menilai digitalisasi layanan keuangan, seperti fitur "kantong" tidak hanya bermanfaat untuk pengaturan keuangan pribadi, tetapi juga dapat membantu bisnis UMKM.

“Melakukan edukasi ke UMKM ini saya rasa bagus banget karena di bank digital itu ada tersedia fasilitas fitur kantong-kantong itu sehingga dengan kantong-kantong itu kita jadi tahu kan kondisi keuangan secara real itu seperti apa,” kata Piter dalam keterangan diterima di Jakarta, Jumat.

Dalam keterangan Survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI), disebutkan sebanyak 51,8 persen masyarakat kelas menengah memisahkan pengeluaran berdasarkan kebutuhan. Hal itu sejalan dengan popularitas fitur kantong pada layanan keuangan digital untuk membantu mengatur keuangan.

Dalam survei itu, terdapat tiga kebiasaan teratas yang dilakukan kelas menengah yakni merencanakan pengeluaran dan pendapatan (68 persen), membedakan uang untuk tagihan bulanan dan keperluan sehari-hari (51,8 persen), dan mencatat pengeluaran (44,9 persen).

Survei itu menunjukkan kelas menengah memiliki kesadaran dan berbagai cara untuk mengelola keuangan. Dalam perencanaan pengeluaran, salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan adalah fitur “kantong” pada layanan keuangan digital.

Survei terpisah yang juga dilakukan oleh lembaga yang sama menemukan 86 persen masyarakat sudah mengetahui fitur itu lantaran diadopsi oleh berbagai bank seperti Bank Jago, BCA dan Mandiri.

Survei yang sama juga mengemukakan 9 dari 10 pengguna mengatakan fitur kantong berdampak pada keuangan yang lebih sehat.

Piter menilai penggunaan kantong pada layanan keuangan digital merupakan bentuk perubahan dalam pengelolaan keuangan di kalangan masyarakat.

“Sekarang tanpa ke bank bisa buka rekening, buka rekening bisa 1 rekening kantongnya banyak. Berbagai ekosistem yang bergabung dalam keuangan ada sekarang,” kata Piter.

Sementara itu, Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Indef Fadhila Maulida mengatakan kehadiran bank digital dapat menjadi penyedia kebiasaan keuangan yang konvensional menjadi lebih modern seperti "kantong" pada layanan keuangan digital.

"Sebenarnya bank digital ini lebih ke enabler dari yang amplop-amplop itu menjadi digital,” kata dia.

Dalam konteks tersebut, fitur kantong dapat dilihat sebagai bentuk digitalisasi dari kebiasaan lama yang telah diwariskan dalam keluarga.

Teknologi memperkuat praktik pengelolaan keuangan yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, sekaligus membuatnya menjadi lebih praktis, mudah dipantau, dan terintegrasi dengan aktivitas keuangan sehari-hari.

Di sisi lain Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Produk Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengingatkan dalam perencanaan keuangan, khususnya untuk kelas menengah, perlu mencermati betul apa yang menjadi prioritas.

“Kalau saya melihatnya seperti ini, kepada masyarakat kelas menengah terutama disiplin. Ketika mendapatkan penghasilan, alokasikan mana yang untuk kebutuhan esensial, harus bisa membedakan mana yang esensial mana yang gaya hidup," katanya.

Riset terpisah bertajuk “Studi Perilaku Alokasi Keuangan di Fitur Bank Digital” dilakukan dengan metode survei daring dan melibatkan hampir 2.000 responden dari sepuluh kota besar di Indonesia, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makassar, Denpasar dan Balikpapan.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |