Nutrisi buruk pengaruhi disregulasi suasana hati pada remaja

4 days ago 7

Jakarta (ANTARA) - Sebuah uji klinis dari Selandia Baru menunjukkan bahwa gangguan emosional yang parah pada remaja dapat diperburuk oleh sesuatu yang tampaknya tidak berbahaya, seperti kekurangan nutrisi dalam diet mereka.

Dilansir dari laman New York Post, di Jakarta, Senin, pemimpin penelitian dan psikolog klinis Universitas Canterbury, Julia Rucklidge, Ph.D., menguji 132 remaja berusia antara 12 dan 17 tahun dari seluruh Selandia Baru yang menunjukkan iritabilitas tingkat sedang hingga berat.

Dalam penelitian tersebut beberapa remaja terkait dengan kondisi relatif baru yang disebut Gangguan Disregulasi Suasana Hati yang Mengganggu (Disruptive Mood Dysregulation Disorder ), yang menurut beberapa perkiraan memengaruhi 5 persen anak-anak dan remaja di AS.

Teorinya bahwa mikronutrien (vitamin dan mineral) akan memperbaiki temperamen dan sifat mudah tersinggung serta mengarah pada kesehatan mental secara keseluruhan yang lebih baik.

Baca juga: Faktor sosial berkontribusi sebabkan remaja kurang kualitas tidur

Mereka dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok menerima mikronutrien dalam bentuk pil tiga kali sehari, empat pil sekaligus, selama delapan minggu. Kelompok lainnya diberi plasebo.

Secara keseluruhan, remaja dari kelompok mikronutrien dan plasebo mengalami peningkatan suasana hati, seperti yang diamati dalam panggilan konsultasi mingguan dengan seorang psikolog.

Banyak peserta dari kedua kelompok juga mengalami penurunan pikiran untuk bunuh diri, yang menurut para penulis dialami oleh sekitar seperempat peserta di awal percobaan.

Rucklidge menjelaskan, bukan berarti anak-anak itu kekurangan nutrisi tertentu, tetapi kondisi mereka mungkin sedemikian rupa sehingga mereka masing-masing membutuhkan lebih banyak dukungan daripada sistem tubuh yang sehat pada umumnya.

“Jika saya benar-benar sakit, misalnya terkena flu, maka kebutuhan nutrisi saya akan lebih tinggi karena sistem kekebalan tubuh saya perlu didukung. Jika saya stres, jika banyak hal yang terjadi, kebutuhan nutrisi saya akan lebih tinggi dalam keadaan seperti itu,” jelasnya.

Baca juga: Cara baru Instagram jaga remaja tak sakiti diri sendiri

Para penulis studi ini mengutip penelitian yang menghubungkan pola makan buruk dengan perkembangan masalah kesehatan mental pada kaum muda, termasuk disregulasi suasana hati. Malnutrisi dini khususnya tampaknya memiliki efek kritis, menyebabkan berbagai macam komplikasi pada saat seorang anak menjadi remaja.

“Apa yang terjadi pada masa remaja—otak mereka sedang mengalami rekonstruksi, Banyak hal yang terjadi, metriknya tidak seimbang. Kebutuhan nutrisi mereka lebih tinggi. Mereka mengalami percepatan pertumbuhan. Otak mereka sedang berubah,” kata Rucklidge.

Ketika semua pertumbuhan itu hanya didorong oleh pola makan makanan ultra-olahan, maka terjadilah benturan kekuatan yang mendatangkan kesengsaraan.

Namun, Rucklidge tidak berharap semua orang mulai mengonsumsi suplemen secara sembarangan. Suplemen memang bisa bermanfaat dalam beberapa keadaan, tetapi bukan obat mujarab.

Sebaliknya, dia ingin proyek ini menjadi peringatan bahwa lingkungan makanan berpengaruh pada pertumbuhan otak.

Baca juga: Faktor-faktor yang bisa memicu keinginan bunuh diri pada remaja

Baca juga: Langkah-langkah untuk melindungi remaja di ruang digital

Baca juga: Siasat hadapi anak yang sedang FOMO

Penerjemah: Fitra Ashari
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |