Mobilitas Makin Besar, KAI Terapkan Pendekatan “Safety at Scale” pada Perlintasan Sebidang

5 hours ago 9

Jakarta (ANTARA) - Pertumbuhan transportasi massal membawa tantangan global yang sama pentingnya dengan kapasitas yaitu bagaimana sebuah sistem bertumbuh dengan aman.

UN-Habitat mencatat kecelakaan jalan masih merenggut sekitar 3.260 jiwa setiap hari secara global, sementara meningkatnya mobilitas perkotaan menuntut sistem transportasi yang lebih aman, inklusif dan terintegrasi.

Di Indonesia, urgensi tersebut berkembang bersamaan dengan meningkatnya penggunaan kereta api. Sepanjang Januari–Juli 2026, KAI Group melayani 307,86 juta pelanggan, naik 8,32%. KAI Commuter melayani 242,93 juta pelanggan, sementara KA Jarak Jauh dan Lokal yang dikelola KAI mencapai 35,26 juta pelanggan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan jaringan perlu diikuti pendekatan safety at scale.

“Semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan,” ujar Anne.

Salah satu titik interaksi yang paling kompleks berada pada perlintasan sebidang.

KAI menetapkan 190 titik prioritas peningkatan keselamatan perlintasan sebidang pada 2026 di sembilan Daop dan empat Divre. Program tersebut mencakup gardu, rambu, alat keselamatan dan komunikasi, SDM penjaga perlintasan tersertifikasi, serta tahapan pemasangan pintu perlintasan.

Pendekatan KAI juga bergerak semakin berbasis data.

Dari pemetaan 1.214 titik perlintasan sebidang, terdapat 43 lokasi dengan kategori risiko tinggi, 630 risiko sedang, 538 risiko rendah, serta tiga kategori sangat rendah.

“Pemetaan risiko membuat penanganan dapat disusun berdasarkan kondisi lapangan. Karakter lalu lintas jalan, status perlintasan, lingkungan, dan intensitas perjalanan kereta berbeda pada setiap lokasi,” kata Anne.

KAI bersama stakeholders juga telah merealisasikan penutupan 172 lokasi perlintasan sebidang yang masuk target program.

Pada sisi korporasi, RJPP 2026 menempatkan penguatan Train Safety & Security System, intelligent rail service and inspection, digitalisasi sistem pengelolaan infrastruktur, serta modernisasi sarana sebagai bagian dari tema Strengthening Operational and Organizational Foundations.

Menurut Anne, keselamatan juga membutuhkan partisipasi publik karena ruang di sekitar rel berinteraksi langsung dengan aktivitas masyarakat.

“Teknologi dan fasilitas memberikan lapisan perlindungan. Disiplin pengguna jalan, kepatuhan terhadap rambu dan koordinasi antarinstansi melengkapi lapisan tersebut,” ujar Anne.

“World-class railway dimulai dari kemampuan tumbuh dengan aman. Ketika jumlah perjalanan meningkat, standar pengelolaan risiko juga harus semakin matang,” tutup Anne.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |