Jombang (ANTARA) - Politikus perempuan Yenny Wahid menilai demonstrasi yang disertai kemarahan hingga perusakan fasilitas bukan merupakan kultur Nahdlatul Ulama (NU) yang mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan.
"Sebetulnya demonstrasi, lalu kemudian chaos, marah-marah itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan," kata Yenny di Jombang, Jawa Timur, Sabtu.
Pernyataan tersebut disampaikan Yenny menanggapi dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, termasuk aksi demonstrasi dan ketegangan yang muncul setelah adanya keputusan dalam forum muktamar.
Menurut dia, pihak yang kecewa terhadap keputusan muktamar seharusnya menerima hasil yang telah menjadi kesepakatan para muktamirin dan tidak melampiaskan kekecewaan dengan tindakan anarkis.
Baca juga: GP Ansor akan tindak tegas pihak yang ganggu jalannya Muktamar NU
"Kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU," ujar putri dari Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.
Yenny juga menilai keputusan mengenai masa idah politik perlu diterima karena telah menjadi kesepakatan dalam muktamar.
Menurut dia, kebijakan tersebut penting untuk menjaga jarak antara NU dan partai politik.
Ia mengatakan jarak tersebut diperlukan agar NU tidak mudah dimasuki kepentingan politik praktis dan tetap berada pada posisi yang netral terhadap seluruh partai politik.
"NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan," kata Yenny.
Baca juga: Fatayat NU di muktamar: Tidak boleh ada kekerasan pada perempuan-anak
Ia menegaskan politik kebangsaan NU semestinya diarahkan untuk mengurus persoalan rakyat dan bangsa, termasuk menjaga persatuan dan kesatuan serta mendorong kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Terkait terbentuknya AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi), Yenny berharap para kiai yang terpilih dapat mengambil keputusan terbaik dalam menentukan Rais Aam maupun kandidat Ketua Umum PBNU periode mendatang.
"Semua alim, semuanya fakih. Kita tentu menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan yang paling pas dalam memilih Rais Aam maupun memilih kandidat ketua umum ke depannya nanti," katanya.
Yenny juga berharap para muktamirin dan seluruh pihak yang terlibat dalam muktamar dapat menerima serta menghormati keputusan yang dihasilkan para ulama demi keberlangsungan NU dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad kedua organisasi tersebut.
Baca juga: Presiden Prabowo dijadwalkan hadiri penutupan Muktamar ke-35 NU
Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































